FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DISMENORE PRIMER PADA REMAJA PUTRI KELAS VIII DI SMPN 2 GAMPING YOGYAKARTA

Main Article Content

Istaniah Kartika Puteri
Dewi Rokhanawati

Abstract

Latar Belakang: angka kejadian dismenore di Indonesia sebesar 64,22% yang terdiri dari 54,89% mengalami dismenore primer. Di salah satu SMP di Bantul didapatkan sebesar 64,4% pelajar mengalami dismenore yang mayoritas berumur 14 tahun. Di salah satu SMK di Moyudan Sleman terdapat 51 dari 72 responden yang mengalami dismenore atau sebesar 70,8%. Dismenore adalah rasa sakit pada saat menstruasi yang cukup parah hingga mengganggu aktivitas yang diakibatkan oleh meningkatnya hormon prostaglandin dalam tubuh. Dismenore primer yang paling sering terjadi lebih dari 50% wanita mengalaminya dan 10-15% diantaranya mengalami nyeri yang hebat yang sampai mengganggu kegiatan dan aktivitas sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dismenore primer pada remaja putri. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebesar 78 siswi kelas VIII di SMP N 2 Gamping Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel dengan cara proportional random sampling, pengambilan data menggunakan kuesioner dan analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian diperoleh 25 (32,1%) siswi mengalami dismenore. Berdasarkan data bivariat diperoleh hasil usia menarche (p value = 0,086), riwayat keluarga (p value = 0,169), lama menstruasi (p value = 1,000), aktivitas fisik (p value = 1,000), status gizi (p value = 0,398), dan tingkat stres (p value = 0,115). Dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara usia menarche, riwayat keluarga, lama menstruasi, aktivitas fisik, status gizi, dan tingkat stres dengan kejadian dismenore primer pada remaja putri. Remaja diharapkan dapat meningkatkan pola hidup sehat (makan makanan bergizi, berolahraga dan istirahat yang cukup).
 
Kata kunci: dismenore, faktor-faktor, hubungan, nyeri haid
 
Background: the incidence of dysmenorrhea in Indonesia was found to be 64.22%, of which 54.89% experienced primary dysmenorrhea. In one junior high school in Bantul was found to be 64,2% experienced dysmenorrhea majority of whom were 14 years old. In one of the vocational schools in Moyudan Sleman was found to be 51 out of 72 respondents experienced dysmenorrhea or 70,8%. Dysmenorrhea is pain during menstruation that is severe enough to interfare with activities caused by increased prostaglandin hormones in the body. Primary dysmenorrhea most often occurs more than 50% of women experience it and 10-15% of them experience severe pain that interferes with daily activities and activities. The purpose of this study was to determine the factors associated with the incidence of primary dysmenorrhea in adolescent girls. This sudy was a quatitative study with a cross sectional approach. The sample size was 78 students of class VIII at SMPN (State Junior High School) 2 Gamping Yogyakarta. The sampling technique was proportional random sampling, data collection using questionnaires and data analysis was carried out univariate, bivariate with chi-square test. The results showed that 25 (32.1%) female students experienced dysmenorrhea. Based on bivariate data obtained the results of menarche age (p value = 1.000), family history (p value = 0.169), length of menstruation (p value = 1.000), physical activity (p value = 1.000),  nutritional status (p value = 0.398), and stress level (p value = 0.115). it can be concluded that there is no relationship between menarche age, family history, lenght of menstruation, physical activity, nutritional status, and stress level with the incidence of primary dysmneorrhea in adolescent girls. Adolescents are expected to improve a healthy lifestyle (eating nutritious food, exercising and getting enough rest.
 
Keywords: dysmenorrhea, factors, menstrual pain, relationship

Article Details

Section
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan