OPTIMALISASI KADER KESEHATAN REMAJA PADA ERA DIGITALISASI DI DESA POJOK KECAMATAN TAWANGSARI

Main Article Content

Tri Yahya Christina
Safaruddin Safaruddin
I Putu Juni Andika
Ayuni Riska Utami

Abstract

Perkembangan era digitalisasi membawa perubahan signifikan dalam pola perolehan, pemahaman, dan penyebaran informasi kesehatan, terutama di kalangan remaja yang merupakan pengguna aktif teknologi. Di Desa Pojok Kecamatan Tawangsari, pemanfaatan digital masih rendah, 24% kader remaja menggunakan media digital dan 62% belum literasi digital, sehingga partisipasi kader remaja berbasis digital masih di bawah 20%. Tujuan kegiatan ini meningkatkan pengetahuan, literasi digital, serta membentuk kader kesehatan remaja yang kompeten dalam mengakses, menganalisis, dan menyebarkan informasi kesehatan secara bertanggung jawab dan berbasis bukti. Kegiatan dilaksanakan melalui identifikasi kebutuhan belajar, edukasi interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, serta evaluasi pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, ditandai dengan pergeseran kategori pengetahuan dari sebagian besar peserta yang awalnya berada pada kategori buruk dan sedang, menjadi dominan pada kategori baik setelah intervensi, yaitu mencapai 80%. Selain itu, hilangnya kategori buruk pada hasil post-test menegaskan efektivitas program dalam mengatasi kesenjangan pemahaman dasar. Disimpulkan program digitalisasi ini terbukti mampu memperkuat kapasitas kader dalam literasi digital dan kesehatan serta mendorong keterlibatan aktif dan pembelajaran mandiri. Secara keseluruhan, intervensi ini berkontribusi pada pembentukan kader kesehatan remaja yang lebih adaptif, berdaya, dan siap menjadi agen promosi kesehatan di era digital secara berkelanjutan.


Kata kunci: digitalisasi, edukasi kesehatan, literasi digital, literasi kesehatan, remaja


The rapid development of the digital era has brought significant changes in the acquisition, understanding, and dissemination of health information, particularly among adolescents who are active users of technology. In Pojok Village, Tawangsari Subdistrict, digital utilization remains low: only 24% of health cadres use digital media and 62% lack digital literacy, resulting in digital-based adolescent participation of below 20%. The program aims to improve knowledge and digital literacy and to develop adolescent health cadres who are competent in accessing, analyzing, and disseminating health information responsibly and based on evidence. The program was implemented through learning needs identification, interactive education, group discussions, case studies, and evaluation using pre-test and post-test. The results showed a significant improvement in knowledge, indicated by a shift from predominantly poor and moderate knowledge levels before the intervention to a dominant good category after the intervention, reaching 80%. Furthermore, the absence of the poor category in the post-test results confirms the effectiveness of the program in addressing gaps in basic understanding. It can be concluded that digitalization program effectively strengthened the cadres’ digital and health literacy capacities and encouraged active engagement and self-directed learning. Overall, the intervention contributed to the development of more adaptive, empowered adolescent health cadres who are prepared to act as sustainable health promotion agents in the digital era.


Keywords: digitalization, health education, digital literacy, health literacy, adolescents

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section
Artikel