KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik <p>Kosala : Jurnal Ilmu Kesehatan (p-ISSN 1979-0430 | e-ISSN 1979-0430) publishes research articles, conceptual articles, reports field studies, the best practices and policies of health and nursing in national and international stage (See Focus and Scope). STIKES PANTI KOSALA Jalan Raya Solo - Baki Km. 4 Gedangan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Phone: (0271) 621313 | Email: lppmpankos@gmail.com</p> <p>KOSALA: Journal of Health Sciences has been accredited by<br />Directorate General of Higher Education, Research and Technology<br />Ministry of Education, Research and Technology of the Republic of Indonesia<br />Number 105/E/KPT/2022 in Scientific Journal Accreditation Rating Period I 2022</p> <p>KOSALA : Journal of Health Sciences<br />Designated as RANK 4 ACCREDITED Scientific Journal<br />valid for 5 (five) years, starting from Volume 8 Number 1 of 2020 to Volume 12 Number 2 of 2022</p> <pre id="tw-target-text" class="tw-data-text tw-text-large tw-ta" dir="ltr" data-placeholder="Terjemahan"><a href="https://stikespantikosala.ac.id/wp-content/uploads/2022/11/Sertifikat-KOSALA-Jurnal-Ilmu-Kesehatan.pdf"><strong><span class="Y2IQFc" lang="en">Accredited by SINTA 4</span></strong></a></pre> Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala en-US KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan 1979-0430 The copyright of the received article shall be assigned to the journal as the publisher of the journal. The intended copyright includes the right to publish the article in various forms (including reprints). The journal maintains the publishing rights to the published articles. Authors are permitted to disseminate published articles by sharing the link/DOI of the article at the journal. Authors are allowed to use their articles for any legal purposes deemed necessary without written permission from the journal with an acknowledgment of initial publication to this journal. IMPLEMENTASI PROGRAM PERENCANAAN PERSALINAN DAN PENCEGAHAN KOMPLIKASI (P4K) KAITANNYA DENGAN PENYEBAB KEMATIAN MATERNAL https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/263 <p>Latar belakang: Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) adalah sebuah program pemerintah yang bertujuan untuk mendorong percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI). Apabila cakupan ibu hamil yang memperoleh parameter pemantauan P4K sampai dengan 80%, maka diharapkan angka kematian ibu yang diakibatkan oleh komplikasi dapat menurun hingga 6000 jiwa dari 2.052.000 per tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Penerapan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) terhadap penyebab kematian ibu. Subyek dan metode: penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain studi kohort retrospektif yang dilakukan pada 34 Provinsi di Indonesia pada tahun 2019. Besar sampel sebesar 9472 puskesmas di Indonesia. Variabel dependen adalah Penerapan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Variabel independen antara lain perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, gangguan sistem peredaran darah, dan gangguan metabolik. Pengumpulan data menggunakan data sekunder dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian: perdarahan (b= 6.55; 95% CI= 2.81 to 10.29; p=0.001), hipertensi dalam kehamilan (b= 0.79; 95% CI= -2.11 to 3.69; p= 0.583), meningkatkan keikutsertaan Penerapan P4K. Rendahnya variabel lain, seperti infeksi (b= -1.33; 95% CI= -10.87 to 8.20; p= 0.777), gangguan system peredaran darah (b= -8.95; 95% CI= -13.50 to -4.40; p=&lt;0.001), gangguan metabolik (b= -0.27; 95% CI= -4.75 to 4.21; p=0.903) akan menurunkan keikutsertaan Penerapan P4K. Keikutsertaan ibu dalam Penerapan P4K akan membantu menurunkan komplikasi dalam kehamilan, seperti perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, gangguan sistem peredaran darah dan gangguan metabolik.</p> <p> </p> <p>Kata kunci: kematian maternal, program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi, puskesmas</p> <p> </p> <p><em>Background: The Delivery Planning and Complication Prevention Program (P4K) is a government program that aims to accelerate the reduction of the Maternal Mortality Rate (MMR). If the coverage of pregnant women receiving P4K monitoring parameters is up to 80%, it is expected that the maternal mortality rate caused by complications can decrease to 6,000 people from 2,052,000 per year. This study aims to analyze the implementation of the Birth Planning and Complication Prevention Program (P4K) on the causes of maternal death. Subjects and method: this research is an analytical study with a retrospective cohort study design which was conducted in 34 provinces in Indonesia in 2019. The sample size is 9472 puskesmas in Indonesia. The dependent variable is the Implementation of the Birth Planning and Complication Prevention Program (P4K). Independent variables include bleeding, hypertension in pregnancy, infection, circulatory system disorders, and metabolic disorders. Data collection uses secondary data and is analyzed using multiple linear regression. Result: bleeding (b= 6.55; 95% CI= 2.81 to 10.29; p= 0.001), hypertension in pregnancy (b= 0.79; 95% CI= -2.11 to 3.69; p= 0.583), increasing the participation of P4K implementation. Low other variables, such as infection (b= -1.33; 95% CI= -10.87 to 8.20; p= 0.777), circulatory system disorders (b= -8.95; 95% CI= -13.50 to -4.40; p=&lt;0.001), metabolic disorders (b= -0.27; 95% CI= -4.75 to 4.21; p=0.903) will reduce the participation in implementing P4K. Mothers’ participation in implementing P4K will help reduce complications in pregnancy, such as bleeding, hypertension in pregnancy, infection, circulatory system disorders, and metabolic disorders.</em></p> <p><em> </em></p> <p><em>Keywords:</em> <em>delivery planning and complication prevention programs, health centers, maternal mortality</em></p> Santy Irene Putri Astri Yunita Hendra Dwi Kurniawan Aris Widiyanto Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 93 100 10.37831/kjik.v11i2.263 PENGARUH KUALITAS HIDUP LANSIA TERHADAP RISIKO ELDERLY ABUSE: SYSTEMATIC REVIEW AND META ANALYSIS https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/304 <p>Latar belakang: Negara Indonesia saat ini mulai memasuki periode <em>aging population. D</em>iproyeksikan tahun 2035 mencapai 48,2 juta jiwa 15,77%, lebih tinggi dari angka global pada angka 28,8 juta (11,34%) dari total populasi penduduk dunia. Kelompok lansia cenderung terjadi penurunan kualitas hidup terkait masalah fisik, sosial dan ekonomi yang rentan terhadap kekerasan (<em>abuse</em>) dari orang lain. Identifikasi faktor risiko <em>ederly abuse </em>merupakan langkah penting untuk menurunkan risiko <em>ederly abuse</em>. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan kualitas hidup lansia dengan risiko <em>elderly abuse</em> berdasar studi literatur. Subyek dan metode penelitian yang digunakan yaitu <em>Systematic Review</em> dengan basis data <em>Science Direct, Google schoolar dan PubMed </em>menggunakan program Harzing’s Publish or Peris. <em> Medical Subject Heading (Mesh)</em> “<em>risk factors</em>” yang dikombinasikan dengan “<em>Elderly Abuse</em>” OR “<em>elderly negelct</em>” OR “<em>elderly maltreatmen</em>t”. Meta analisis menggunakan program MedCalc Statistic Seri 22. Hasil penelitian(1). Bentuk <em>Elderly Abuse</em> kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikologis, kekerasan finasial dan penyalahgunaan fasilitas lansia (2) Kualitas hidup lansia yang rendah merupakan faktor risiko <em>Elderly Abuse</em> (OR:5,360;p:&lt;0,001;CI:1,327-1,839). Kesimpulan penelitian ini adalah kualitas hidup lansia yang rendah meningkatkan risiko <em>elderly abuse</em><em>.</em></p> <p> </p> <p>Kata kunci: <em>elderly abuse, elderly maltreatment, elderly neglect, kualitas hidup</em></p> <p> </p> <p><em>Background: </em><em>Indonesia is currently starting to enter a period of population aging. It is projected that in 2035 it will reach 48.2 million people, 15.77%, higher than the global figure of 28.8 million (11.34%) of the world's total population (Central Statistics Agency, 2021). The elderly group tends to experience a decline in quality of life related to physical, social and economic problems and is vulnerable to violence (abuse) from other people. Identifying risk factors for derly abuse is an important step to reduce the risk of derly abuse</em><em>.</em> <em>The purpose of this study was to Identify impact quality of life of elderly on risk factors for elderly abuse based on literature studies.</em><em> Subject and method</em><em>: this research is Systematic Review with the Science Direct database, Google schoolar, and PubMed using the Harzing's Publish or Peris program.</em> <em>Medical Subject Heading (Mesh) "risk factors" combined with "Elderly Abuse" OR "elderly neglect" OR "elderly maltreatment". Meta analysis using the MedCalc Statistics Series 22 program.</em> <em>The results</em> <em> (1). Forms of Elderly Abuse physical violence, sexual violence, psychological violence, financial violence, and abuse of elderly facilities (2) Elderly Abuse risk factors are the quality of life of the elderly (OR:5.360;p:&lt;0.001;CI:1.327-1.839)</em><em>. </em><em>Conclusion</em><em>:</em> <em>t</em><em>he low quality of life of the elderly increased the risk factors for Elderly Abuse</em><em>.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords: </em><em>Elderly Abuse, Elderly Maltreatment, Elderly Neglect, Quality of Life</em></p> Diyono Budi Kristanto Dian Putranto Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 101 109 10.37831/kjik.v11i2.304 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMANFAATAN POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR (POSBINDU PTM) DESA MANTUYAN KECAMATAN HALONG https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/292 <p>Latar belakang: pemanfaatan Posbindu Penyakit Tidak Menular di Desa Mantuyan masih sangat kurang. Jumlah kunjungan Posbindu penyakit tidak menular di tahun 2022 sebanyak 302 orang (40%). Sehingga sekitar 60% penduduk Desa Mantuyan belum memanfaatkan fasilitas Posbindu penyakit tidak menular. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular Desa Mantuyan Kecamatan Halong. Subyek dan metode: penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan <em>Cross Sectional </em>dan menggunakan<em> uji chi-square</em><em>. </em>Sampel penelitian ini berjumlah 92 responden dengan teknik sampling <em>Accidental Sampling. </em>Hasil penelitian sebagian besar responden 57,6% tidak memanfaatkan Posbindu penyakit tidak menular, pengetahuan masyarakat maayoritas baik sebanyak (54,3%), sebagian besar sikap masyarakat positif sebanyak (59,8%) dan aksesbilitas masyarakat akan memanfaatkan Posbindu mayoritas jauh sebanyak (52,2%). Hasil analisis statistik disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p=0,002), sikap (p= 0,026) dan aksesbilitas (p=0,041) dengan pemanfaatan pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular.</p> <p> </p> <p>Kata Kunci: aksesibilitas, pengetahuan, penyakit tidak menular, posbindu, sikap</p> <p> </p> <p><em>Background: the use of non-infectious diseases in the village of Mantuyan is still very low.The number of visits after non-contagious diseases in 2022 was 302 people (40%).So about 60 percent of the village population have not been using the post-sensitive facilities for non-sensitive diseases. The purpose of this research is to identify and analyze factors related to the utilization of the united breeding post the disease does not infect the fishing village Halong obscenity. This method of research is categorical with the cross sectional approach and using the chi-square test. This research sample has a total of 92 responders with sampling accidental sampling techniques. Research results mostly responders 57.6 % do not utilize non-infected disease posbindu, good public knowledge (54.3 %), most of society's positive attitudes (59.8 %) and people's accessibility will take advantage of the vast majority ( 52.2 %). From the statistics concluded that a significant relation exists between variables knowledge (p=0,002)attitude (p= 0,026) and accessibility (p = 0,041 ) post integrated development in terms of non-infectious disease.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords: </em><em>attitude,</em> <em>accessibility,</em> <em>knowledge, non-infectious disease</em><em>, </em><em>posbindu</em></p> Hilda Irianty Agus Jalpi Eka Vivi Lestari Khairul Anam Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 111 119 10.37831/kjik.v11i2.292 KEKERASAN VERBAL IBU MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/294 <p>Latar belakang: pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan peristiwa yang terjadi selama proses pertumbuhan dan perkembangan anak yang dapat terjadi secara fisik, intelektual, maupun emosional. Permasalahan tumbuh kembang yang berhubungan dengan mental salah satunya adalah aspek perkembangan kognitif dengan fungsi intelektual. Berdasarkan data UNICEF (United for Children) pada tahun 2016 bahwa 80% anak usia 2-14 tahun pernah mengalami kekerasan baik itu berbentuk fisik maupun psikologis dimana 62% kekerasan terhadap anak terjadi di lingkungan terdekat yaitu keluarga dan lingkungan sekolah, selebihnya 38% di ruang publik. Sedangkan di masa pandemic kasus kekerasan verbal pada anak semakin meningkat, hal inilah yang menjadi urgensi dari penelitian tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keterkaitan kekerasan verbal ibu dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Subyek dan metode: metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan studi deskriptif korelasi. Penelitian ini dilakukan di PAUD/TK ABA Kasihan Bantul pada bulan April-Juni 2022. Populasi pada penelitian yaitu siswa PAUD/TK ABA yang berjumlah 32 anak. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa yang berumur 4-5 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah <em>total sampling</em>. Hasil penelitian menyatakan bahwa perilaku kekerasan verbal dengan tumbuh kembang yang tidak normal lebih banyak 17 anak dibandingkan dengan tumbuh kembang anak yang tidak normal sebanyak 1 anak. Sedangkan ibu yang tidak melakukan kekerasan verbal dengan tumbuh kembang normal lebih banyak sebesar 9 anak di bandingkan dengan ibu yang melakukan kekerasan verbal dengan tumbuh kembang anak normal sebesar 5 anak. Hasil uji bivariat nilai p-value sebesar 0,000 artinya p-value &lt; 0,005 dengan kesimpulan ada keterkaitan antara kekerasan verbal ibu dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Kesimpulan: kontribusi penelitian ini yaitu bagi ibu dan orang tua di harapkan lebih memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak dengan pola asuh yang benar.</p> <p> </p> <p>Kata kunci: kekerasan verbal ibu, pertumbuhan dan perkembangan anak</p> <p> </p> <p><em>Bacground: child growth and development are events that occur during the process of child growth and development which can occur physically, intellectually, and emotionally. One of the developmental problems related to mental development is the aspect of cognitive development with intellectual function. Based on data from UNICEF (United for Children) in 2016 that 80% of children aged 2-14 years have experienced violence both physically and psychologically where 62% of violence against children occurs in the immediate environment, namely the family and school environment, the remaining 38% in the public. Meanwhile, during a pandemic, cases of verbal abuse in children increased, this is the urgency of this research. The aim of the study: the aim of the research was to find out the correlation between mother's verbal violence and child's growth and development. Subjects and method : this research method uses a type of quantitative research with a descriptive correlation study. This research was conducted at ABA Kindergarten/PAUD Kasihan Bantul in April-June 2022. The population in the study were ABA PAUD/TK students, totaling 32 children. The sample in this study were students aged 4-5 years who met the inclusion criteria. The sampling technique in this study is total sampling. The results of the study stated that there were 17 children with abnormal growth and development of verbal violence compared to 1 child with abnormal growth and development. Results: meanwhile, mothers who did not commit verbal violence with normal growth and development were 9 more children compared to mothers who did verbal violence with normal child development of 5 children. The results of the bivariate test have a p-value of 0.000, meaning that the p-value is &lt;0.005 with the conclusion that there is a link between mother's verbal abuse and child growth and development. Conclusion : the contribution of this research is that mothers and parents are expected to pay more attention to the growth and development of children with the right parenting style.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords:</em> <em>mother's verbal violence, child growth and development</em></p> Enny Fitriahadi Luluk Rosida Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 121 130 10.37831/kjik.v11i2.294 HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN KELUARGA DENGAN PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/303 <p>Latar belakang: manusia yang memiliki karakter baik adalah manusia yang bertumbuh sebagai individu yang cerdas, baik dan mampu bertanggungjawab atas pertumbuhan dirinya sendiri dan orang lain. Periode usia anak merupakan periode yang penting untuk membentuk karakter. Masa usia anak perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya karena masa ini dapat sangat menentukan kualitas manusia dimasa depan. Keluarga berperan penting untuk membangun karakter anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan keluarga dengan pembentukan karakter anak. Subyek dan metode: penelitian berupa observasi analitik, desain korelasi dengan metode <em>cross sectional</em>. Subyek penelitian ini 58 anak kelas V SD Kristen Widya Wacana X Kartasura. Pengambilan sampel secara<em> sampling</em> jenuh. Analisa bivariat menggunakan uji korelasi <em>Pearson Product Moment. </em>Hasil penelitian menunjukkan keluarga dengan lingkungan yang mendukung 89,7% dan anak dengan karakter baik 77,6%. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya hubungan antara faktor lingkungan keluarga dengan pembentukan karakter anak dengan <em>p</em>=0,028 (&lt;0,05) dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,288. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan positif faktor lingkungan keluarga dengan pembentukan karakter anak kelas V SD Kristen Widya Wacana X Kartasura dengan korelasi hubungan yang lemah.</p> <p> </p> <p>Kata kunci: karakter anak, lingkungan keluarga</p> <p> </p> <p><em>Background: humans who have good character are humans who grow as individuals who are smart, good and able to be responsible for the growth of themselves and others. The period of child age is an important period for forming character. Children's age needs to be utilized as well as possible because this period can greatly determine the quality of human beings in the future. Family plays an important role in building children's character. The purpose of tis study was to determine the relationship between family environmental factors and the formation of children's character. Subject and method: research in the form of analytic observation, correlation design with cross sectional method. This research respondents were 58 children of fifth grade elementary School at Widya Wacana X Kartasura Christian Elementary School.Sampling by saturated sampling. Bivariate analysis using the Pearson Product Moment correlation test. The Result showed that Families with a supportive environment 89.7%, children with good character 77.6%. The results of the analysis of the relationship between family environmental factors and the formation of children's character obtained p = 0.028 (&lt;0.05) so that Ha is accepted with a correlation coefficient value of 0.288. The conclusion of this study is there is a positive relationship between family environmental factors and the character formation of fifth grade children at Widya Wacana X Kartasura Christian Elementary School with a weak correlation.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords: child character, family environment</em></p> Ratna Indriati Budi Kristanto Ditya Yankusuma Setiani Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 131 138 10.37831/kjik.v11i2.303 PENGARUH PEMBERIAN SUSU KEDELAI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/306 <p>Latar belakang: upaya meningkatkan produksi ASI adalah dengan meningkatkan hormon perangsang ASI yaitu hormon prolaktin dan oksitosin serta menurunkan faktor-faktor yang menghambat produksi ASI seperti stres. Beberapa studi menunjukkan bahwa pijat dapat meningkatkan kadar hormon oksitosin, prolaktin,dan menurunkan hormon kortisol. Salah satu zat gizi yang perlu diperhatikan oleh ibu menyusui adalah protein. Setiap 100 ml ASI mengandung 1,2 gram protein, sehingga selama menyusui ibu membutuhkan tambahan protein sebanyak 20 gram/hari. Meningkatnya kebutuhan protein ini untuk membentuk protein susu, sintesis hormon prolaktin dan hormon oksitosin. Sumber protein nabati terbaik berasal dari sumber biji-bijian, seperti kacang tanah, kedelai, dan jagung. Dari interaksi yang dilakukan peneliti kepada salah satu ibu menyusui di kelurahan Mojosongo mengeluh produksi ASI yang sedikit dan tidak lancar sehingga menyebabkan payudara sakit dan bengkak. Hal tersebut juga mengakibatkan bayi kekurangan ASI sehingga bila terjadi terus menerus akan mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui. Subyek dan metode: penelitian ini merupakan penelitian <em>pre post experimental control design </em>untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui dengan cara membandingkan produksi ASI pada ibu sebelum dan sesudah mengkonsumsi susu kedelai. Hasil penelitian menunjukkan uji <em>Mann-Whitney U</em> diperoleh hasil <em>mean</em> pada kelompok kontrol yaitu kelompok tanpa intervensi adalah 14.67, sedangkan kelompok intervensi yaitu dengan pemberian susu kedelai selama 7 hari atau satu minggu adalah 16.33. Berdasarkan nilai perbedaan rata-rata (<em>mean differences</em>) adalah negatif yaitu -5.87 dapat diartikan bahwa hasil setelah diberi intervensi pemberian susu kedelai maupun tanpa intervensi dengan Asymp <em>sig.(2-tailed)</em> nilai p=0,557. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian susu kedelai tidak berpengaruh terhadap peningkatan produksi ASI pada Ibu menyusui.</p> <p> </p> <p>Kata kunci: Peningkatan produksi ASI, Pemberian susu kedelai</p> <p> </p> <p><em>Background: efforts to increase breast milk production are by increasing breast milk stimulating hormones, namely the hormones prolactin and oxytocin and reducing factors that inhibit milk production such as stress. Several studies show that massage can increase levels of the hormone oxytocin, prolactin, and decrease the hormone cortisol. One of the nutrients that breastfeeding mothers need to pay attention to is protein. Every 100 ml of breast milk contains 1.2 grams of protein, so during breastfeeding mothers need an additional 20 grams of protein per day. The increased need for this protein to form milk protein, synthesis of the hormone prolactin and the hormone oxytocin. The best sources of vegetable protein come from whole grains, such as peanuts, soybeans and corn. From the interactions that the researchers carried out with one of the breastfeeding mothers in the Mojosongo sub-district, they complained that their milk production was small and not smooth, causing sore and swollen breasts. This also causes the baby to lack breast milk so that if this happens continuously it will interfere with the baby's growth and development process. The aims of the study was to determine the effect of giving soy milk to increase milk production in nursing mothers. Subject and method: this research design is pre post experimental control design to know the effect of giving soy milk to increasing milk production in nursing mothers by comparing the production of breast milk in mothers before and after consuming soy milk. The result showed that after the Mann-Whitney U test, the mean in the control group, namely the group without intervention, was 14.67, while the intervention group, namely giving soy milk for 7 days or one week, was 16.33. Based on the value of the mean difference (mean differences) is negative, namely -5.87, it can be interpreted that the results after being given the intervention of giving soy milk or without intervention with Asymp sig. (2-tailed) value of p = 0.557. The Conclusion showed that there is no significant effect of giving soy milk to increase milk production in nursing mothers.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords: child character, family environment</em></p> Sri Aminingsih Tunjung Sri Yulianti Warsini Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 139 149 10.37831/kjik.v11i2.306 EVALUASI KETIDAKLENGKAPAN PENGISIAN INFORMED CONSENT TINDAKAN OPERASI DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH LAMONGAN https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/284 <p>Latar belakang:<em> i</em><em>nformed consent</em> adalah persetujuan tindakan medis yang diberikan kepada pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapat penjelasan lengkap tentang tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. Peneliti menemukan masih terdapat pengisian <em>informed consent</em> yang tidak lengkap. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor penyebab ketidaklengkapan pengisian <em>informed consent</em> tindakan operasi di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan. Subyek dan metode: desain pada penelitian ini <em>sequential explanatory</em>. Teknik pengambilan data kuantitatif menggunakan <em>simple random sampling</em> berjumlah 89 <em>informed consent</em> dan data kualitatif menggunakan <em>snowball sampling</em> didapatkan 5 responden dengan wawancara. Hasil penelitian didapatkan kelengkapan pengisian <em>informed consent</em> sebanyak 85% dan ketidaklengkapan sebanyak 15%, faktor penyebab ketidaklengkapan pengisian lembar <em>informed consent</em> dokter terburu-buru karena banyaknya pasien yang harus segera diberikan tindakan dan belum adanya pemberlakkuan <em>punishment</em> dan <em>reward</em>, kesesuaian pengisian lembar <em>informed consent</em> dengan SPO Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan sudah sesuai yaitu dengan kesesuaian sebesar 100%. Saran, setiap dokter wajib meninjau ulang kelengkapan <em>informed consent</em> dan perlu adanya pemberlakuan <em>punishment </em>dan<em> reward</em>. Dengan adanya <em>punishment</em> dan <em>reward</em> diharapkan hasil yang didapatkan dalam pengisian lembar <em>informed consent</em> tindakan operasi meningkat dan kelengkapan dapat tercapai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan serta agar mutu bagian rekam medis menjadi baik.</p> <p> </p> <p>Kata kunci: faktor penyebab, kelengkapan <em>Informed Consent</em>, kesesuaian dengan SPO</p> <p> </p> <p><em>Background: informed consent is a medical action approval given to the patient or to his/her next of kin after receiving a complete explanation of the medical action to be performed. The researcher found that there was incomplete filling of informed consent. The purpose of this study was to identify factors causing incomplete filling of informed consent for surgery at Muhammadiyah Hospital of Lamongan. This research used sequential explanatory design. The quantitative data were collected by using simple random sampling of 89 informed consent, and the qualitative data were gathered though snowball sampling of 5 respondents to interview. The results showed that the completeness of filling out informed consent was 85%, and the incompleteness was 15%. Several factors caused the incompleteness of filling out the informed consent sheet including the doctors were in a hurry because of the large number of patients who had to be given immediate action. Besides, there was no punishment and reward. Filling out the informed consent sheet in Muhammadiyah Hospital of Lamongan was suitable with the SPO of 100%. In conclusion, doctors are obliged to review the completeness of informed consent. Additionally, it requires to implement punishment and reward so that filling out the informed consent form for surgery will increase and completeness can be achieved according to predetermined standards. Thus, the quality of the medical record section will be better.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords: </em><em>Causative Factors, Completeness of Informed Consent, Suitability with SPO</em></p> Diana Mei Nanda Muh. Ganda Saputra Nuryati Nahardian Vica Rahmawati Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 151 161 10.37831/kjik.v11i2.284 HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN KECEMASAN MAHASISWA KEPERAWATAN TINGKAT III STIKES PANTI KOSALA DALAM MENGHADAPI PRAKTIK KLINIK https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/290 <p>Latar belakang: perasaan cemas dapat menyerang siapa saja, terutama mahasiswa keperawatan yang sedang melakukan praktik klinik. Mahasiswa keperawatan dituntut untuk dapat memahami, mendalami, dan mempraktikkan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan di kampus. Semakin tinggi tingkat kecemasan, maka perlu adanya mekanisme koping untuk mengatasi kecemasan yang terjadi. Ketika mahasiswa mengalami kecemasan, maka individu akan menggunakan berbagai mekanisme koping untuk mengatasi rasa cemas. Apabila individu tidak mampu mengatasi kecemasan secara konstruktif, maka dapat menjadi penyebab terjadinya perilaku yang patologis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan mekanisme koping dengan kecemasan mahasiswa keperawatan tingkat III STIKES PANTI KOSALA dalam menghadapi praktik klinik. Subyek dan metode: metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan <em>cross sectional</em>. Uji statistik yang digunakan adalah uji <em>chi square </em>dengan nilai signifikan ?&lt;0,05. Subjek penelitian adalah mahasiswa tingkat III semester VI Prodi DIII Keperawatan STIKES PANTI KOSALA tahun ajaran 2022/2023 dengan sampel sebanyak 56 orang diambil menggunakan teknik total populasi. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 6 responden (10,7%) mengalami kecemasan berat, 5 responden (8,9%) mengalami kecemasan ringan dan sedang. Mayoritas responden menggunakan mekanisme koping maladaptif sebanyak 38 mahasiswa (67,9%). Mahasiswa yang menggunakan koping maladaptif, memiliki tingkat kecemasan normal lebih banyak yaitu 68,4% dibandingkan mahasiswa yang menggunakan koping adaptif sebesar 61,1%. Kesimpulan penelitian ini yaitu tidak terdapat hubungan bermakna antara mekanisme koping dengan kecemasan Mahasiswa Keperawatan Tingkat III STIKES PANTI KOSALA dalam Menghadapi Praktik Klinik (? = 0,695).</p> <p> </p> <p>Kata kunci: kecemasan, mekanisme koping, mahasiswa keperawatan</p> <p> </p> <p><em>Background: anxiety can attack anyone, especially nursing students who are doing clinical practice. Nursing students are required to be able to understand, explore, and practice the knowledge they have learned during lectures on campus. The higher the level of anxiety, the greater the need for a coping mechanism to overcome the anxiety that occurs. When students experience anxiety, they will use various coping mechanisms to overcome it. If the individual is not able to overcome anxiety constructively, then it can be a cause of pathological behavior. The aims of this study was to determine the relationship between coping mechanisms and anxiety in Diploma of Nursing Students in Clinical Practice at STIKES PANTI KOSALA. Subject and method: the method used is descriptive-quantitative and cross-sectional. The statistical test used is the chi-square test, with a significant value of 0.05. The research subjects were Diploma of Nursing students in semester VI at STIKES PANTI KOSALA for 2022–2023, with as many as 56 people taken using the total population technique. The results showed that 6 respondents (10.7%) experienced severe anxiety, and 5 respondents (8.9%) experienced mild and moderate anxiety. The majority of respondents used maladaptive coping mechanisms, including as many as 38 students (67.9%). Students who use maladaptive coping have more normal anxiety levels, namely 68.4%, compared to students who use adaptive coping, which is 61.1%. The conclusion of this study is that there is no significant relationship between coping mechanisms and the anxiety of Diploma of Nursing students in semester VI at STIKES PANTI KOSALA in Facing Clinical Practice (? = 0.695).</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords: anxiety, coping mechanisms, nursing students</em></p> Natanael Natanael Muljadi Hartono Budi Santoso Yovita Prabawati Tirta Dharma Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 163 171 10.37831/kjik.v11i2.290 KEPUASAN TENAGA MEDIS DAN TENAGA KESEHATAN DALAM IMPLEMENTASI REKAM MEDIS ELEKTRONIK (RME) DI RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/305 <p>Penyelenggaraan pelayanan di rumah sakit yang professional dan bertanggung jawab dibutuhkan dalam mendukung upaya kesehatan dalam rangkaian pembangunan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu. Tujuan pembangunan kesehatan dapat tercapai salah satunya dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan. Transformasi teknologi kesehatan merupakan wujud nyata yang relevan dengan situasi kesehatan dan era 4.0 saat ini. Salah satu bentuk transformasi digital yang bisa diterapkan di rumah sakit yaitu dengan penerapan rekam medis elektronik untuk mengelola dokumen rekam medis pasien. Diharapan dapat mempermudah dan mempercepat proses pelayanan. Namun salah satu tantangan yang dihadapi dalam penerapan rekam medis elektronik berkaitan dengan sumber daya manusia. Beragamnya persepsi pengguna dalam implementasi rekam medis elektronik akan memperlama proses pelayanan dan menambah beban kerja yang mana hal ini mengurangi kepuasan kerja pengguna (tenaga medis dan tenaga kesehatan). Sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepuasan tenaga medis dan tenaga kesehatan dalam implementasi rekam medis elektronik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sampel yang digunakan adalah tenaga medis dan tenaga kesehatan di RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO sejumlah 100 responden. Berdasarkan analisa univariat diperoleh hasil kepuasan tenaga medis dan tenaga kesehatan dalam implementasi rekam medis elektronik dilihat dari tujuh dimensi yaitu: dimensi <em>content</em> (89% responden puas dan 11% tidak puas), dimensi <em>accuracy</em> (86% responden puas dan 14% tidak puas), dimensi format (82% responden puas dan 18% tidak puas), dimensi <em>easy to use </em>(85% responden puas dan 15% tidak puas), dimensi timeliness (87% responden puas dan 13% tidak puas), dimensi <em>security </em>(95% responden puas dan 5% tidak puas), dan dimensi <em>speed of response </em>(84% responden puas dan 16% tidak puas).</p> <p> </p> <p>Kata Kunci : kepuasan, rekam medis elektronik</p> <p> </p> <p><em>Professional and responsible service delivery in hospitals is needed to support health efforts in a comprehensive and integrated health development series. One of the goals of health development can be achieved from the quality of health services provided. Health technology transformation is a concrete manifestation that is relevant to the current health situation and the 4.0 era. One form of digital transformation that can be applied in hospitals is the application of electronic medical records to manage patient medical record documents. Hopefully it can simplify and speed up the service process. However, one of the challenges faced in implementing electronic medical records is related to human resources. The various perceptions of users in the implementation of electronic medical records will prolong the service process and increase the workload which reduces the job satisfaction of users (medical personnel and health workers). So it is necessary to do research on this matter. This study is to describe the satisfaction of medical personnel and health workers in the implementation of electronic medical records. Sample in this study is 100 respondents that are medical and health professional at Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO HOSPITAL. The conclussion of this study are medical and health professional in the implementation of electronic medical record satisfaction were seen from seven dimensions, that are: content dimensions (89% of respondents were satisfied and 11% dissatisfied), dimensional accuracy (86% of respondents were satisfied and 14% were dissatisfied), format dimensions ( 82% of respondents are satisfied and 18% are dissatisfied), the dimension is easy to use (85% of respondents are satisfied and 15% are not satisfied), the dimension of timeliness (87% of respondents are satisfied and 13% are not satisfied), the dimension of security (95% of respondents are satisfied and 5 % dissatisfied), and response speed dimensions (84% of respondents were satisfied and 16% were dissatisfied</em><em>.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords : electronic medical record, satisfaction</em></p> Risa Setia Ismandani Anastasia Lina Dwi Nursanti Lilik Sriwiyati Hendra Dwi Kurniawan Muljadi Hartono Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 173 181 10.37831/kjik.v11i2.305 PENGARUH PENGGUNAAN BEDONG TERHADAP KUALITAS TIDUR NEONATUS https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/298 <p>Latar belakang: bayi setelah dilahirkan mengalami masa kehidupan awal di luar rahim selama 28 hari (neonatus) dan mengalami transformasi kehidupan intrauterin menuju ekstrauterin. Bayi yang baru lahir di bawah usia satu bulan ialah kelompok usia yang memiliki kondisi medis paling rentan dan berbagai kondisi medis dapat muncul sehingga tanpa terapi yang tepat dapat berakibat fatal, salah satunya ialah gangguan kualitas tidur. Masalah kualitas tidur pada neonatus dapat menghambat perkembangan anak, kekebalan tubuh menurun dan mengganggu sistem endokrin. Salah satu cara untuk mengatasi masalah kuaitas tidur pada neonatus adalah penggunaan bedong. Membungkus/membedong neonatus dengan cara yang benar membuat bayi mudah untuk digendong dan membuat bayi merasa nyaman sehingga kualitas tidur menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan bedong terhadap kualitas tidur neonatus. subyek dan metode: desain penelitian ini merupakan <em>Quasy Eksperiment, Pretest - post test one grub design</em>, yaitu dengan membandingkan hasil sebelum di beri perlakuan dan setelah diberi perlakuan. pemilihan sampel dengan <em>Non Probability</em> sampling. Teknik sampling yang digunakan adalah Sampling Jenuh dan didapatkan jumlah sebanyak 30 responden. Analisis data dengan menggunakan uji <em>Paired t test</em>. Hasil penelitian menunjukan Pengaruh Penggunaan Bedong Terhadap Kualitas Tidur Neonatus Di Desa Pajangan. Setelah dilakukan analisis lebih lanjut diketahui nilai signifikan antara <em>Pretest</em> dan <em>Postest</em> adalah 0,001 di mana p (0,001) &lt; 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh sebelum dan sesudah penggunaan bedong terhadap kualitas tidur Neonatus di Desa Pajangan.</p> <p> </p> <p>Kata kunci: bedong, kualiatas tidur, neonatus</p> <p> </p> <p><em>Background: n</em><em>eonates are the first period of life outside the womb until the age of 28 days, at this time the baby experiences adaptation of intrauterine to extrauterine life. Infants up to the age of less than one month are an age group that has the highest risk of health problems and various health problems can arise so that without proper treatment it can be fatal, one of which is disturbed sleep quality. Sleep quality problems can interfere with infant growth, making immune function vulnerable and disrupting endocrine system regulation. The use of swaddling can help improve the quality of sleep of neonates, swaddling newborns in the right way makes the baby very easy to hold and can make the baby comfortable so as to reduce the baby becomes fussy, newborns look calmer if given care.</em><em> Subject and method: t</em><em>his research design is a Quasy Experiment, Pretest - post test one grub design, namely by comparing the results before treatment and after treatment. sample selection with Non Probability sampling with saturated sample withdrawal, Sample withdrawal using Saturated Sampling technique, namely 30 respondents. Data analysis using Paired t test. The results showed the effect of swaddling on the quality of sleep of neonates in Pajangan village. After further analysis, it is known that the significant value between Pretest and Postest is 0.001 which is 0.001 &lt;0.05, so it can be concluded that there is an influence before and after the use of swaddling on the quality of sleep of neonates in Pajangan Village.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords:</em> <em>n</em><em>eonate, </em><em>s</em><em>leep </em><em>q</em><em>uality</em><em>, s</em><em>waddling</em></p> Wahyu Dwi Agussafutri Irma Ariyani Rahajeng Putriningrum Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 183 191 10.37831/kjik.v11i2.298 LITERATURE REVIEW: PENTINGNYA EDUKASI SEKS DALAM PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/281 <p>Latar belakang: pendidikan seksual pada anak masih dianggap tabu bagi sebagian besar masyarakat. Kekerasan dan penyimpangan seksual di lingkungan anak sendiri disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kurangnya pendidikan seks bagi anak dan masyarakat. Tujuan penelitian untuk memberikan gambaran pentingnya edukasi seks dalam pencegahan kekerasan seksual pada anak. subyek dan metode: metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan menggunakan 18 artikel dalam rentang waktu 2018 – 2023 yang diperoleh dari <em>PubMed </em>dan <em>google scholar</em>. Hasil penelitian menunjukkan pendidikan seksual pada anak memiliki manfaat yang besar guna memberikan pengetahuan, menghindari anak dari serangan serta risiko negatif kekerasan seksual. Pemberian edukasi seks pada anak dapat dilakukan dengan bantuan tenaga pendidik, orang tua, serta tokoh agama. Media yang dapat dijadikan bahan edukasi seperti ceramah dan diskusi, mainan, buku, dan aplikasi yabg menarik. Saran kepada orang tua memberikan perhatian dan pengawasan yang cukup serta menjadi teladan yang baik saat dirumah. Selanjutnya bagi para guru untuk dapat memberikan perhatian, pengawasan, dan pembelajaran mengenai pendidikan seks disekolah.</p> <p> </p> <p>Kata kunci: anak, edukasi seks, kekerasan seksual, pencegahan</p> <p> </p> <p><em>Background: s</em><em>exual education in children is still considered taboo for most people. Violence and sexual deviation in children's environment is caused by various factors, one of which is the lack of sex education for children and society. T</em><em>he aim of the study</em><em> to provide an overview of the importance of sex educa</em><em>tion in preventing sexual violence in children. </em><em>Subject and method: t</em><em>he method used in this research is a literature study using 18 articles in the 2018 – 2023 period obtained from PubMed and Google Scholar.</em><em> The result showed that s</em><em>exual education for children has great benefits in providing knowledge, preventing children from being attacked and the negative risks of sexual violence. Providing sex education to children can be done with the help of educators, parents, and religious leaders. Media that can be used as educational material such as lectures and discussions, toys, books, and interesting applications. </em><em>Suggested to </em><em>parents give sufficient attention and supervision and be a good role model at home. Furthermore, for teachers to be able to provide attention, supervision, and learning about sex education in schools.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords:</em> <em>sex education, prevention, sexual violence, children</em></p> Rini Anggraini Athiyah Ashilah Lia Tri Aida Saputri Nabilah Qatrunnada Nurkartika Putri Purnawati Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 193 207 10.37831/kjik.v11i2.281 EVALUASI PROGRAM BINA KELUARGA BALITA (BKB) DENGAN PERKEMBANGAN ANAK https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/295 <p>Latar belakang: setiap anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Perkembangan bersifat progresif, sistematis dan berkesinambungan. Hal-hal yang berkembang pada setiap individu adalah sama, namun terdapat perbedaan pada kecepatan perkembangan. Tumbuh kembang anak di Indonesia masih perlu mendapatkan perhatian serius, angka keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan masih cukup tinggi yaitu sekitar 5?10% mengalami keterlambatan perkembangan umum. Dua dari 1.000 bayi mengalami gangguan perkembangan motorik dan 3 sampai 6 dari 1.000 bayi juga mengalami gangguan pendengaran serta satu dari 100 anak mempunyai kecerdasan kurang dan keterlambatan bicara. Diperlukan pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan upaya yang optimal dari berbagai aspek sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang maksimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Metode penelitian studi kualitatif dilakukan kepada 8 orangtua yang memiliki balita, 1 penyelenggara dan 2 pelaksana program Bina Keluarga Balita pada November 2022-Februari 2023. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kerangka kerja RE-AIM. Hasil penelitian menunjukkan program Bina Keluarga Balita (BKB) adalah kegiatan yang dirancang guna pembinaan tumbuh kembang anak melalui pola asuh yang benar berdasarkan kelompok umur yang dilakukan oleh sejumlah kader. Keunggulan program ini adalah pelaksanaan yang dilakukan rutin setiap bulan untuk membina orangtua yang memiliki balita. Kelemahan penyelenggaraan BKB ini adalah bersamaan dengan kegiatan Posyandu Balita sehingga dinilai kurang optimal dalam memberikan stimulasi perkembangan pada balita. Kesimpulan penelitian ini adalah evaluasi yang dilakukan pada program Bina Keluarga Balita berhasil mengungkap kebutuhan orangtua akan informasi kesehatan anak. Keunggulan program ini mampu memfasilitasi orangtua dalam belajar mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak. Implikasi dari evaluasi ini adalah diperlukan perbaikan dalam penyelenggaraan program Bina Keluarga Balita berupa kerjasama lintas sektor dan pelatihan bagi pelaksana program guna penyelenggaraan Bina Keluarga Balita yang lebih baik.</p> <p> </p> <p>Kata kunci: Evaluasi, Bina Keluarga Balita, Perkembangan Anak, RE-AIM</p> <p> </p> <p><em>Background: every child grows and develops. Development is progressive, systematic and continuous. The things that develop in individual are the same, but there are differences in the speed of development. The growth and development of children in Indonesia still needs serious attention, the rate of growth and development delays is still quite high, around 5-10% experiencing general developmental delays. Two out of 1,000 babies experience motor development disorders and 3 to 6 out of 1,000 babies also experience hearing loss and one in 100 children has less intelligence and speech delays. Optimum knowledge, understanding, skills and efforts are needed from various aspects so that children can grow and develop optimally according to their potential. The research method was qualitative study was conducted on 8 parents with toddlers, 1 organizer and 2 implementers of the Toddler Family Development program (BKB) in November 2022-February 2023. Data was collected by interview using the RE-AIM framework. The result showed that Program Bina Keluarga Balita (BKB)/ Toddler Family Development Program is an activity designed to foster children's growth and development through proper parenting based on age groups carried out by cadres. The advantage of this program is that it is carried out routinely every month to foster parents who have toddlers. The weakness of this BKB implementation is that it coincides with Posyandu Balita so that it is considered less than optimal in providing stimulation for development in toddlers. Conclusion: The evaluation conducted on BKB Program a succeeded in uncovering parents' need for child health information. The advantage of this program is being able to facilitate parents in learning about the growth and development of children. The implication of this evaluation is that improvements are needed in the implementation of the Toddler Family Development program in the form of cross-sector collaboration and training for program implementers for better implementation of Bina Keluarga Balita.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords:</em> <em>Evaluation, Toddler Family Development (BKB), Child Development, RE-AI</em><em>M</em></p> Riadini Wahyu Utami Hananto Wibowo Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 209 216 10.37831/kjik.v11i2.295 HUBUNGAN SELF- EFFICACY DENGAN KECEMASAN MAHASISWA UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA MENGHADAPI DOPS SAAT PRAKTIK KLINIK LAPANGAN https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/307 <p>Latar belakang: praktik klinik merupakan salah satu cara agar calon tenaga kesehatan dapat menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama proses belajar mengajar dengan melibatkan pasien secara langsung. DOPS (Direct Observational Procedural Skills) merupakan metode yang digunakan untuk melakukan penilaian evaluasi hasil pembelajaran mahasiswa keperawatan saat praktik klinik lapangan. Tujuan penelitian: untuk mengetahui hubungan self efficacy dengan kecemasan mahasiswa keperawatan dalam menghadapi DOPS (Direct Observational of Procedural Skills) saat praktik klinik lapangan di ruang operasi. Subyek dan metode: penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan rancangan cross sectional. Hasil penelitian: uji Sperman rank untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dengan kecemasan didapatkan hasil sig 0,027 (p&lt;0,05) dengan correlation coefecient -0,291 yang artinya terdapat hubungan signifikan antara self-efficacy dengan kecemasan mahasiswa dalam menghadapi DOPS. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan dengan kekuatan yang cukup dan tidak searah antara self-efficacy dengan kecemasan, dimana semakin tinggi self-efficacy mahasiswa dalam menghadapi DOPS maka akan semakin rendah kecemasan yang dirasakan.</p> <p> </p> <p>Kata kunci: efikasi diri, kecemasan</p> <p> </p> <p><em>Background: clinical practice is a way for prospective health workers to apply the knowledge they have acquired during the teaching and learning process by involving patients directly. DOPS is a method used to evaluate the learning outcomes of nursing students during field clinical practice. This research aims to determine the relationship between self-efficacy with anxiety of Nursing students take on DOPS (Direct Observational Procedural Skills) during field clinical practice at the central surgery instalation. Subjects and method: this study used a descriptive correlation with a cross-sectional design. The results of the Sperm rank test to find out the relationship between self-efficacy and anxiety obtained sig 0.027 (p&lt;0.05) with a correlation coefficient of -0.291, it means there is a significant relationship between self-efficacy and student anxiety taking on DOPS with sufficient strength and not in the same direction. The conclusion from this study is that there is a significant relationship with sufficient strength, where the higher the student's self-efficacy in dealing with DOPS, the lower the anxiety felt.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords: anciety, self efficacy</em></p> Joko Murdiyanto Suesti Suesti Heri Puspito Cindi Claudia Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 217 229 10.37831/kjik.v11i2.307 ANALISIS INFORMASI ANATOMI PENGGUNAAN PROYEKSI SKYLINE PADA PEMERIKSAAN KNEE JOINT POST ARTHROSCOPY https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/309 <p>Latar belakang:<em> knee Joint </em>atau sendi lutut merupakan salah satu sendi terbesar dalam tubuh, sendi ini merupakan sendi yang kompleks. <em>Osteoarthritis </em>merupakan kelainan sendi degenerasi non inflamasi yang terjadi pada sendi yang dapat digerakkan dan sendi penopang berat badan dengan gambaran khas memburuknya rawan sendi. Salah satu penanganan pada gangguan sendi menggunakan <em>arthroscopy</em>. <em>Arthroscopy </em>adalah prosedur pembedahan yang progresnya dapat dilihat melalui pemeriksaan radiografi. Pemeriksaan radiografi <em>knee joint </em>pada kasus osteoarthritis menggunakan proyeksi <em>anteroposterior </em>(AP) <em>weight bearing </em>dan <em>lateral</em>. Sedangkan di RS Ortopedi Prof Dr. R Soeharso Surakarta pemeriksaan <em>knee joint pada </em>kasus Osteoarthritis menggunakan proyeksi <em>AP Standing, Lateral Standing </em>dan tambahan Proyeksi <em>Skyline</em>. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi anatomi penggunaan proyeksi <em>skyline </em>pada post arthoscopy dan alasan penggunaan proyeksi <em>skyline </em>pada pemeriksaan <em>knee joint </em>dengan kasus <em>osteoarthritis</em><strong>. </strong>Subyek dan metode: subyek penelitian ini adalah satu orang petugas operator, dua orang radiografer dan satu orang ahli radiologi. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R Soeharso Surakarta dan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan dengan hasil wawancara di buat transkrip wawancara, reduksi data, tabel kategorisasi, koding terbuka, dan dibuat kesimpulan. Hasil penelitian: informasi anatomi penggunaan proyeksi <em>skyline </em>pada pemeriksaan <em>knee joint post arthroscopy </em>adalah <em>osteoarthritis genu dextra </em>Grade 4 dengan pembentukan <em>osteofit prominent </em>pada <em>condylus medialis et lateralis os femur et tibia</em>, juga pada <em>os. patella </em>dengan penyempitan <em>joint space, deformitas </em>dan <em>fusi </em>serta <em>subchondral cyst</em>. Alasan pemeriksaan <em>knee joint </em>pada kasus <em>post arthroscopy </em>di Instalasi radiologi RS Ortopedi Surakarta menggunakan proyeksi <em>skyline </em>adalah dapat menampakkan celah sendi, dan memperlihatkan ada tidaknya <em>iregularitas </em>pada permukaan sendi antara tulang <em>tibia </em>dan <em>patella.</em></p> <p> </p> <p><em>Kata kunci: arthroscopy, joint, knee, osteoarthritis</em></p> <p> </p> <p><em>Background: the knee joint is one of the largest joints in the body, a complex joint. Osteoarthritis is a noninflammatory degenerative joint disorder that occurs in movable joints and weight support joints with a typical picture of worsening joint proneness. One treatment for joint disorders is using arthroscopy. Arthroscopy is a surgical procedure whose progress can be seen through radiographic examination. Knee joint radiographic examination of osteoarthritis cases using an anterior (AP) weight bearing and lateral projection). Meanwhile, at the Orthopedic Hospital, Prof. Dr. R Soeharso Surakarta, the joint Knee examination on the case of Osteoarthritis used the projection of AP Standing, Lateral Standing and additional Skyline Projections. The aim of the study: the purpose of this study was to find out the anatomical information on the use of skyline projections on postarthoscopy and the reasons for using skyline projections on Knee joint examinations with osteoarthritis cases. Subjects and method: the subjects of this study were one dispatcher, two radiographers, and one radiologist. The type of research used in this study is qualitative research with a type of case study. The data collection method uses observations, interviews, documentation at the Radiological Installation of Orthopedic Hospital in Prof. Dr. R Soeharso Surakarta and library studies. Results: radiographic examination of the Knee joint post arthroscopy with projections: AP projection, Lateral projection, and Skyline projection. The anatomical information on the use of skyline projections on Knee joint post arthroscopy is Grade 4 osteoarthritis of the dextra gene with the formation of prominent osteophytes in the conditionyl medialis et lateralis os femur et tibia, as well as in the os. It is a subchondral cyst with narrow joint space, deformity and fusion and subchondral cyst. The reason for the Knee joint examination on the postarthroscopy case at the Radiological Installation of Orthopedic Hospital in Prof. Dr. R Soeharso Surakarta using skyline projections is that there is no irregularity in the joint surface between the tibia and patella bones.Conclusion: the reason for the Knee joint examination on the postarthroscopy case at the Radiological Installation of Orthopedic Hospital in Prof. Dr. R Soeharso Surakarta using skyline projections is that there is no irregularity in the joint surface between the tibia and patella bones.</em></p> <p> </p> <p><em>Keywords: </em>a<em>rthroscopy</em><em>, </em><em>joint</em><em>, knee, osteoarthritis</em></p> Ildsa Maulidya Mar'athus Nasokha Fisnandya Meita Astar Retno Wati Vicky Muhammad Amri Al- Furqan Bima Herdian Adhiewilaga Hafidzhoh Qulubul Fadhila Aufia Dina Aulya Copyright (c) 2023 http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0 2023-11-30 2023-11-30 11 2 231 238 10.37831/kjik.v11i2.309