https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/issue/feedKOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan2025-06-23T04:39:08+00:00Warsinilppmpankos@gmail.comOpen Journal Systems<p>Kosala : Jurnal Ilmu Kesehatan (p-ISSN 1979-0430 | e-ISSN 1979-0430) publishes research articles, conceptual articles, reports field studies, the best practices and policies of health and nursing in national and international stage (See Focus and Scope). STIKES PANTI KOSALA Jalan Raya Solo - Baki Km. 4 Gedangan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Phone: (0271) 621313 | Email: lppmpankos@gmail.com</p> <p>KOSALA: Journal of Health Sciences has been accredited by<br />Directorate General of Higher Education, Research and Technology<br />Ministry of Education, Research and Technology of the Republic of Indonesia<br />Number 105/E/KPT/2022 in Scientific Journal Accreditation Rating Period I 2022</p> <p>KOSALA : Journal of Health Sciences<br />Designated as RANK 4 ACCREDITED Scientific Journal<br />valid for 5 (five) years, starting from Volume 8 Number 1 of 2020 to Volume 12 Number 2 of 2022.</p> <pre id="tw-target-text" class="tw-data-text tw-text-large tw-ta" dir="ltr" data-placeholder="Terjemahan"><a href="https://stikespantikosala.ac.id/wp-content/uploads/2022/11/Sertifikat-KOSALA-Jurnal-Ilmu-Kesehatan.pdf"><strong><span class="Y2IQFc" lang="en">Accredited by SINTA 4</span></strong></a></pre>https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/348EKSPLORASI PEMILIHAN CURAHAN HATI PADA REMAJA: ORANG TERDEKAT VS MEDIA SOSIAL2024-09-30T04:38:01+00:00Yustiana Olfah Iskandaryustiana.olfah@poltekkesjogja.ac.idTri Siswatiyustiana.olfah@poltekkesjogja.ac.idSyamsul Firdausyustiana.olfah@poltekkesjogja.ac.idTitik Endarwatiyustiana.olfah@poltekkesjogja.ac.id<p>Dalam realitas penuh tekanan dan tantangan yang dihadapi remaja saat ini, curahan hati menjadi saluran penting bagi mereka untuk mengatasi berbagai perasaan dan pengalaman emosional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pemilihan curahan hati remaja dengan penggunaan media sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif survei dan dilakukan dengan menggunakan pendekatan <em>cross-sectional</em> dimana hanya dilakukan satu kali pengambilan data. Penelitian berlangsung di SMP N 1 dan SMP N 2 Sleman Yogyakarta pada bulan Juni-Agustus 2021 dengan jumlah sampel sebanyak 60 siswa. Variabel yang diteliti adalah karakteristik responden dan kecenderungan pilihan tempat curahan hati (curhat) baik keluarga/teman maupun media sosial. Data dikumpulkan dengan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara diskriptif melalui narasi, gambar maupun tabel. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan, dengan pendidikan bapak dan ibu adalah SMA. Sebagian besar remaja memilih ibu dan teman sebagai teman curhat (masing-masing sebesar 40% dan 37%), namun demikian mereka juga masih memilih media sosial sebagai tempat curhat (60%). Pilihan favorit media sosial untuk curhat adalah WhatsApp (37%). Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa variabel kategori pemilihan curahan hati dan variabel penggunaan media sosial mempunyai tingkat korelasi sebesar 0,28 yang signifikan pada tingkat <em>confidence interval</em> 95%. Kesimpulan: kategori pemilihan curahan hati dengan penggunaan media berkorelasi, remaja tetap memilih media sosial sebagai sarana curahan hati, meskipun memiliki seseorang untuk curahan hati.</p> <p>Kata kunci : curahan hati; ekspresi perasaan; media sosial; remaja</p> <p><em>Adolescence is a developmental phase where there are many changes, including emotional changes. During adolescence there is also a peak in emotionality, so teenagers must receive attention from parents, teachers and a good environment so that their emotions can be controlled. Emotional development that is not well controlled can trigger emotional mental problems in adolescents. To realize adolescent mental health, it cannot be separated from the role of family and community in developing adolescent mental health. In principle, teenagers in the household environment can consult with their parents as friends to confide in. However, nowadays quite a few people are turning to confiding in social media and teenagers are the highest users of social media with a percentage of 75.50%. The use of social media makes it easier for teenagers to express or vent their feelings. To understand the relationship between the type of friends to share feelings with the use of social media as a tool to vent emotions in teenagers, this study was conducted using a quantitative survey method and a cross-sectional approach, where data were collected only once. This study was conducted at SMP N 1 and SMP N 2 Sleman, Yogyakarta, involving 60 students aged 14 and 15 years as samples. The result of the research show that as many as 40% of teenagers chose Mother as their friend to confide in and as many as 60% of teenagers used social media as a means to confide in or express their feelings. The results of the correlation analysis show that the variable whoever the friend confides in and the variable social media use have a correlation level of 0.28 which is significant at the 95% confidence interval level. These two variables have a significant relationship.</em></p> <p><em>Keywords : </em><em>adolescent , expression of feeling, social media</em></p>2025-05-05T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/388MENOPAUSE RATING SCALE (MRS) PADA USIA 45-59 TAHUN DITINJAU DARI RIWAYAT KONTRASEPSI2025-03-12T02:43:22+00:00Tatik Trisnowatitatiktris@polinsada.ac.idAprilia Nuryantitatiktris@polinsada.ac.id<p>Menopause merupakan proses alami yang terjadi saat seorang wanita bertambah tua. Seiring usia bertambah, indung telur akan makin sedikit memproduksi hormon kewanitaan dan menyebabkan indung telur tidak lagi melepaskan sel telur sehingga menstruasi akan berhenti. Penggunaan kontrasepsi hormonal dapat menimbulkan efek negatif pada kehidupan seksualitas wanita. Durasi dan tingkat keparahan gejala yang timbul bisa berbeda-beda pada tiap wanita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan gejala menopause. Metode penelitian ini adalah penelitian korelasional dengan pendekatan <em>Cross Sectional</em>. Sampel penelitian ini menggunakan <em>non probability sampling</em> jenis <em>consecutive sampling</em>. Besar sampel pada penelitian ini adalah 60 orang. Analisis data menggunakan analisa bivariat dengan uji <em>Pearson Correlation</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara gejala menopause dengan penggunaan kontrasepsi (p=0,000). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara gejala menopause dengan penggunaan kontrasepsi.</p> <p>Kata kunci : hormonal; kontrasepsi; <em>Menopause Rating Scale</em> <em>(MRS)</em></p> <p><em>Menopause is a natural process that occurs as a woman grows older. As a woman ages, her ovaries produce fewer female hormones, causing the ovaries to no longer release eggs and menstruation to stop. The use of hormonal contraceptives can have a negative effect on a woman's sexual life. The duration and severity of symptoms can vary from woman to woman. This study aims to determine the relationship between hormonal contraceptive use and menopausal symptoms. This research method is correlational research with a Cross Sectional approach. The sample of this study used non probability sampling type consecutive sampling. The sample size in this study was 60 people. Data analysis using bivariate analysis with Pearson Correlation test. The results showed that there was a relationship between menopausal symptoms and the use of contraceptives (p=0.000). The conclusion of this study is that there is a relationship between menopausal symptoms and the use of contraceptives.</em></p> <p><em>Keywords : contraception; hormonal; Menopause Rating Scale (MRS)</em></p>2025-05-07T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/363STATUS GIZI BERHUBUNGAN DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA PADA PASIEN DM TIPE II DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MLATI II YOGYAKARTA2024-11-14T04:20:05+00:00Lidya Paradisalidyaparadisaparadisa@gmail.comAnindhita Syahbi Syagatalidyaparadisa@gmail.comFaurina Risca Fauzialidyaparadisa@gmail.com<p>Glukosa Darah Puasa (GDP) sebagai penanda Diabetes Mellitus (DM) adalah kondisi medis dengan peningkatan kadar glukosa darah melebihi batas normal dalam tubuh dalam kondisi setelah puasa. Status gizi merupakan keadaan tubuh akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Pada DM Tipe 2 terjadi kondisi tubuh dengan kadar glukosa tinggi akibat kelainan pada kemampuan tubuh untuk menggunakan hormon insulin. Seseorang dengan IMT berlebihan memiliki risiko DM lebih besar dibandingkan status gizi normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan kadar glukosa darah puasa pada pasien DM Tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Mlati 2 Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain penelitian <em>cross-sectional</em>. Sampel penderita DM dalam penelitian ini sebanyak 51 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah <em>purposive sampling</em>. Analisis bivariat menggunakan uji <em>Rank Spearman.</em> Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar subjek penelitian adalah perempuan (76,47%), usia pra-lansia (56,86%), merokok (98,04%), status gizi obesitas (43,14%). Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kadar glukosa darah puasa puasa pasien diabetes melitus tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Mlati 2 Yogyakarta (p=0,000).</p> <p>Kata kunci: Diabetes Mellitus Tipe 2; kadar glukosa darah puasa; obesitas; status gizi; Yogyakarta</p> <p><em>Fasting Blood Glucose (FBS) as a marker of Diabetes Mellitus (DM) is a medical condition with an increase in blood glucose levels exceeding normal point in the body in conditions after fasting. Nutrition status is the state of body due to food consumption and use of nutrients. Type 2 DM is a condition of the body with high glucose levels due to abnormalities in the body’s ability to use the insulin hormone. A person with excessive BMI has a greater risk of DM than normal nutrition status. This study aims to determine the relationship between nutrition status fasting blood glucose levels in Type 2 DM patients in the Mlati 2 Health Center Working Area of Yogyakarta. This study used a cross-sectional research design. The sample of DM patients in this study was 51 people using purposive sampling as a sampling technique. Bivariate analysis used the Spearman Rank test. The result showed that most of the research subjects were women (76.47%), pre-elderly age (56.86%), smoking (98.04%), and obesity nutritional status (43.14%). The results of the bivariate test showed a significant relationship between nutritional status and fasting blood glucose levels in the Type 2 Diabetes Mellitus patiens in the Mlati 2 Health Center Working Area, Yogyakarta (p=0.000).</em></p> <p><em>Keywords: fasting blood sugar levels; nutrition status; obesity; type 2 Diabetes Mellitus; Yogyakarta</em></p>2025-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/345PENGARUH SIMULASI DI ATAS MEJA TERHADAP PENGETAHUAN SISWA SEKOLAH DASAR DALAM MENGHADAPI BENCANA GEMPA BUMI2024-09-30T03:36:41+00:00Ni Luh Putu Putri Yulia Ningsihgekputriy16@gmail.comI Wayan Sukawanawsukawanajkp@gmail.comI Made Sukarjamd_sukarja@yahoo.co.idNi Made Juniarijuniari0706@gmail.com<p>Zona rawan gempa di sekitar pulau Bali diapit oleh dua zona generator gempa: lempeng <em>disubdication</em> (lempeng Euro Asia dan Indo Australia) di sebelah utara dan selatan pulau Bali. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap bencana. Anak-anak rentan terhadap bencana karena mereka kurang memahami resiko di sekitar mereka, yang menyebabkan mereka tidak tahu cara menghadapi bencana. Studi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengetahuan siswa Sekolah Dasar No 11 Jimbaran tentang bencana gempa bumi jika dipengaruhi oleh intervensi simulasi di atas meja. Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimental. Eksperimen dilakukan dengan menggunakan desain pre-post tes satu kelompok (<em>one-group pre-post test design</em>) dan menggunakan pendekatan prospektif. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas V-VI yang dipilih menggunakan metode <em>simple random sampling</em>. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 46 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan simulasi diatas meja terhadap pengetahuan siswa dalam menghadapi bencana gempa bumi di SD No 11 Jimbaran dengan p <em>value</em> 0,000 (p <em>value</em> < 0.05). Jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan media simulasi diatas meja efektif digunakan dalam memberikan sosialisasi mengenai pengetahuan menghadapi bencana gempa bumi.</p> <p>Kata kunci: gempa bumi; pengetahuan; simulasi di atas meja</p> <p><em>The earthquake-prone zone around the island of Bali is flanked by two earthquake generator zones: the subduction plates (Eurasia and Indo-Australia plates) to the north and south of Bali. Children are the most vulnerable group to disasters. Children are vulnerable to disasters because they have little understanding of the risks around them, which causes them not to know how to deal with disasters. This study aims to determine how the knowledge of elementary school students at No. 11 Jimbaran Elementary School about earthquake disasters is influenced by simulation interventions on the table. In this study, the type of research used is pre-experimental. The experiment was conducted using a one-group pre-post test design and using a prospective approach. The population in this study were students in grades V-VI who were selected using the simple random sampling method. The number of samples in this study was 46 respondents. The results of the research show that there is a significant effect of tabletop simulation on students' knowledge in dealing with earthquake disasters at SD No. 11 Jimbaran with a p-value of 0,000 (p-value < 0,05). So it can be concluded that the use of tabletop simulation media is effective in providing socialization regarding knowledge of dealing with earthquake disasters.</em></p> <p><em>Keywords : earthquake; knowledge; table top simulation</em></p>2025-05-20T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/370EFEKTIVITAS BRAIN GYM TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI2024-11-14T04:21:20+00:00Budi Kristantobudikrist18@gmail.comDiyono Diyonodionsanfizio@gmail.comTunjung Sri Yuliantibudikrist18@gmail.com<p>Penyakit hipertensi lebih akrab disebut penyakit darah tinggi. Penyakit arteri yang diakibatkan tekanan darah yang meningkat secara kronis. Penyakit ini tanpa gejala yang dapat meningkatkan resiko seseorang terkena penyakit stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung, sampai kerusakan ginjal. Perlu intervensi yang baik untuk mengendalikan tekanan darah terutama pada populasi lansia. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah tindakan non farmakologis. Salah satu intervensi yang diduga dapat mengontrol tekanan darah adalah senam otak. Untuk itu perlu adanya penelitian untuk mengetahui efektivitas senam otak untuk menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui efektifitas senam otak (<em>brain gym</em>) untuk menurunkan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Metode yang akan peneliti lakukan adalah <em>quasi eksperimen</em> dengan memberikan intervensi senam otak pada lansia dengan hipertensi. Kemudian dilakukan analisis efektivitas sebelum dan setelah intervensi. Responden dalam penelitian ini adalah Pra lansia dan lansia di Kelurahan Jeruksawit, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar<strong>. </strong>Hasil Penelitian ini adalah rerata tekanan darah sebelum dilakukan intervensi dengan <em>brain gym</em> adalah 162,7/100,8 mmHg sedangkan rerata tekanan darah setelah dilakukan intervensi dengan <em>brain gym</em> adalah 141,9/83,02 mmHg. Terdapat penurunan nilai rerata tekanan darah sistol sebesar 20,83 mmHg dan penurunan tekanan darah diastol 17,84 mmHg. Kesimpulan : <em>Brain gym</em> efektif untuk menurunkan tekanan darah pada pra lansia dan lansia dengan hipertensi (p= 0,001).</p> <p>Kata Kunci: <em>brain gym</em>; hipertensi; lansia</p> <p><em>Hypertension is more familiarly called high blood pressure. Arterial disease caused by chronically elevated blood pressure. This disease has no symptoms which can increase a person's risk of stroke, aneurysm, heart failure, heart attack, and even kidney damage. Good intervention is needed to control blood pressure, especially in the elderly population. One way that can be done is non-pharmacological action. One intervention that is thought to be able to control blood pressure is brain exercise. For this reason, research is needed to determine the effectiveness of brain exercises to reduce blood pressure in elderly people with hypertension. </em><em>The purpose of this research To determine the effectiveness of brain gymnastics to reduce blood pressure in elderly people with hypertension.The method that researchers will use is a quasi-experiment by providing brain exercise interventions to elderly people with hypertension. Then an effectiveness analysis was carried out before and after the intervention.Respondent is Pre-elderly and elderly in Jeruksawit Village, Gondangrejo District, Karanganyar Regency. The Research result is the average blood pressure before the intervention with the brain gym was 162.7/100.8 mmHg, while the average blood pressure after the intervention with the brain gym was 141.9/83.02 mmHg. There was a decrease in the mean value of systolic blood pressure of 20.83 mmHg and a decrease in diastolic blood pressure of 17.84 mmHg. Conclusion: Brain gym is effective for lowering blood pressure in pre-elderly and elderly with hypertension (p = 0.001).</em></p> <p><em>Keywords: </em><em>brain gym; elderly; hypertension</em></p>2025-05-23T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/392ANALISIS PRAKTIK PIJAT BAYI DI DESA GENENG SUKOHARJO2025-06-12T04:19:14+00:00Ditya Yankusuma Setianialloysmaria@yahoo.co.idRatna Indriatiratnaindriati24@gmail.com<p>Praktik pijat bayi telah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak yang menunjukkan efek positifnya terhadap perkembangan bayi, terutama pada bayi prematur dan bayi dengan kondisi kesehatan tertentu. Meskipun banyak penelitian telah menunjukkan manfaat pijat bayi, terdapat perbedaan yang signifikan dalam cara praktik ini dilakukan. Faktor-faktor seperti perbedaan budaya, pendidikan, pengetahuan, dukungan sampai dengan ekonomi membuat perbedaan perilaku dalam melakukan praktik pijat bayi. Survei awal yang dilakukan di Desa Geneng yaitu di Dukuh Sigran dan Dukuh Kaworan, dimana kedua dukuh tersebut masih banyak anak balita yaitu 102 anak balita. Dukuh tersebut masih terdapat 31 anak balita tidak pernah dibawa untuk pijat bayi. Orang tua menganggap pijat bayi tidak begitu penting yang penting anaknya tumbuh sehat dan bisa makan dan di dukuh tersebut masih terdapat orang tua yang membawa anaknya untuk dipijat orang tua yang dianggap pintar di desa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik pijat bayi di Desa Geneng Sukoharjo. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pijat bayi di desa Geneng Sukoharjo. Data yang telah peneliti temukan akan dianalisis dengan menggunakan <em>chi square</em> dan uji <em>regresi logistic</em> berganda. Hasil penelitian berdasarkan uji analisis <em>chi square</em> diketahui bahwa faktor yang berhubungan dengan praktik pijat bayi adalah faktor pengetahuan (<em>p-value</em> 0,000), sikap (<em>p-value</em> 0,012), perilaku (<em>p-value</em> 0,000), budaya (<em>p-value</em> 0,000), dukungan keluarga (<em>p-value</em> 0,000), ekonomi (<em>p-value</em> 0,000), pendidikan (<em>p-value</em> 0,001), sumber informasi (<em>p-value</em> 0,000) dan pekerjaan (<em>p-value</em> 0,000), sedangkan faktor yang tidak berhubungan dengan praktik pijat bayi adalah faktor lingkungan (<em>p-value</em> 0,426). Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara pengetahuan, sikap, perilaku, budaya, dukungan keluarga, ekonomi, pendidikan, sumber informasi dan pekerjaan.</p> <p>Kata kunci: budaya; dukungan; pengetahuan; perilaku; pijat bayi; sikap</p> <p><em>The practice of infant massage has received support from various parties that show its positive effects on infant development, especially in premature infants and infants with certain health conditions.</em> <em>Although many studies have shown the benefits of infant massage, there are significant differences in how this practice is carried out.</em> <em>Factors such as differences in culture, education, knowledge, support and even economy make differences in behavior in carrying out infant massage practices.</em> <em>The initial survey was conducted in Geneng Village, namely in Dukuh Sigran and Dukuh Kaworan, where both hamlets still have many toddlers, namely 102 toddlers.</em> <em>In the hamlet, there are still 31 toddlers who have never been taken for infant massage.</em> <em>Parents consider infant massage not so important, the important thing is that their children grow up healthy and can eat and in the hamlet there are still parents who bring their children to be massaged by parents who are considered smart in the village. Research objectives: This study aims to determine the practice of infant massage in Geneng Village, Sukoharjo.</em> <em>Research methods: This study is a correlational study with a cross-sectional approach.</em> <em>This study is to determine the factors that influence the practice of infant massage in Geneng Village, Sukoharjo.</em> <em>The data that the researcher has found will be analyzed using chi square and multiple logistic regression tests Results: based on the chi square analysis test, it was found that the factors related to the practice of infant massage are knowledge factors (p-value 0.000), attitudes (p-value 0.012), behavior (p-value 0.000), culture (p-value 0.000), family support (p-value 0.000), economy (p-value 0.000), education (p-value 0.001), information sources (p-value 0.000) and work (p-value 0.000), while factors that are not related to the practice of infant massage are environmental factors (p-value 0.426). It can be concluded that there is an influence between knowledge, attitudes, behavior, culture, family support, economy, education, information sources and work</em><em>.</em></p> <p><em>Keywords: attitude; behavior; culture; infant massage; knowledge; support</em></p>2025-06-12T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/346PERILAKU KADER POSYANDU BALITA DALAM DETEKSI DINI STUNTING2024-12-03T03:29:12+00:00Ni Made Nelly Mertasihnellymertasihanom@gmail.comMade Widhi Gunapria Darmapatninellymertasihanom@gmail.com<p>Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Besarnya dampak stunting yang ditimbulkan, sehingga masih sangat diperlukan upaya menurunkan angka stunting pada balita di Indonesia salah satunya dengan deteksi dini stunting oleh kader posyandu. Kader harus memiliki perilaku yang terdiri dari pengetahuan, sikap dan keterampilan yang merupakan hal penting dan harus dimiliki oleh kader untuk meningkatkan deteksi dini stunting. Tujuan penelitian untuk mengetahui perilaku kader posyandu balita dalam deteksi dini stunting di Kelurahan Subagan Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Karangasem I pada Februari sampai April 2024. Jenis penelitian deskriptif. Desain penelitian menggunakan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi dan sampel sebanyak 70 orang kader posyandu dipilih secara <em>total sampling</em>. Instrumen pengumpulan data adalah kuesioner dan <em>ceklis</em>t yang sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar yaitu 52 orang (74,3%) kader posyandu balita memiliki pengetahuan yang cukup, sebagian besar yaitu 97,1% memiliki sikap yang positif dalam deteksi dini stunting dan 58 orang (82,9%) kader posyandu balita tidak kompeten dalam deteksi dini stunting. Bagi fasilitas kesehatan dan pemegang kebijakan kesehatan khususnya UPTD Puskesmas Karangasem I dapat meningkatkan kemitraan serta memberikan pelatihan secara lebih intensif kepada kader posyandu balita dalam deteksi dini stunting.</p> <p>Kata kunci : balita; deteksi dini; kader posyandu; perilaku; stunting</p> <p><em>Stunting was a condition of failure to thrive in toddlers due to chronic malnutrition in the first 1,000 days of life (HPK). The impact of stunting is so large that efforts are still needed to reduce stunting rates among toddlers in Indonesia, one of which is early detection of stunting by posyandu cadres. Cadres must have behavior consisting of knowledge, attitudes and skills which are important and must be possessed by cadres to increase early detection of stunting. The aim of the research is to determine the behavior of toddler posyandu cadres in early detection of stunting in Subagan Village, Working Area of ??UPTD Karangasem I Health Center from February to April 2024. This type of research is descriptive. The research design uses a cross sectional approach. The population and sample were 70 posyandu cadres selected by total sampling. The data collection instruments are questionnaires and checklists that have been tested for validity and reliability. The research results showed that the majority, namely 52 people (74.3%) of toddler posyandu cadres, had sufficient knowledge, the majority, namely 97.1%, had a positive attitude in early detection of stunting and 58 people (82.9%) of toddler posyandu cadres did not. competent in early detection of stunting. For health facilities and health policy holders, especially UPTD Karangasem I Health Center, they can improve partnerships and provide more intensive training to posyandu cadres for toddlers in early detection of stunting.</em></p> <p><em>Keywords : behavior; early detection; posyandu cadres; stunting; toddler</em></p>2025-06-13T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/349PERBEDAAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER III TENTANG SKRINING HIPOTIROID KONGENITAL SEBELUM DAN SETELAH DIBERIKAN PENYULUHAN DENGAN MEDIA VIDEO2024-09-30T04:44:00+00:00Ni Putu Yuli Antarini Dewiyulidewi290@gmail.comNi Komang Yuni Rahyaniyulidewi290@gmail.com<p>Kekurangan hormon pada bayi sejak lahir dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan, perkembangan dan keterbelakangan mental. Diketahui sebagian besar ibu hamil belum mengetahui mengenai skrining hipotiroid kongenital. Upaya peningkatan pengetahuan mengenai skrining hipotiroid kongenital melalui penyuluhan dengan media video. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan skor pengetahuan ibu hamil trimester III tentang skrining hipotiroid kongenital yang diberikan penyuluhan dengan media video. Jenis penelitian ini pre-experiment dengan menggunakan desain one group pretest posttest. Sampel terdiri dari 35 orang ibu hamil trimester III yang dipilih dengan metode sampling yang digunakan adalah non probability sampling yakni purposive sampling. Hasil analisis univariat yaitu sebelum diberikan penyuluhan didapatkan rata-rata nilai pengetahuan yaitu 73,72, dengan standar deviasi 6,828, nilai terendah 66 dan nilai tertinggi 87. Setelah diberikan penyuluhan rata-rata nilai pengetahuan ibu hamil trimester III meningkat menjadi 97,51, dengan standar deviasi 3,285, nilai terendah 93 dan nilai tertinggi 100.Hasil analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon ? < 0,05 dengan nilai p = 0,000 < ? (0,05). Simpulannya adalah ada perbedaan skor pengetahuan ibu hamil trimester III tentang skrining hipotiroid kongenital (SHK) sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dengan media video. Layanan dan petugas kesehatan dapat memberikan penyuluhan dengan media video secara berkesinambungan mengenai SHK untuk bayi baru lahir kepada ibu hamil trimester III.</p> <p>Kata kunci: hipotiroid kongenital; ibu hamil; penyuluhan; skrining; trimester III, video</p> <p><em>Hormone deficiency in babies from birth can result in impaired growth, development and mental retardation. It is known that most pregnant women do not know about screening for congenital hypothyroidism. Efforts to increase knowledge regarding congenital hypothyroid screening through education using video media. The aim of the research was to determine the difference in knowledge scores of third trimester pregnant women regarding congenital hypothyroid screening who were given counseling using video media. This type of research is a pre-experiment using a one group pretest posttest design. The sample consisted of 35 pregnant women in the third trimester who were selected using the sampling method used, namely non-probability sampling, namely purposive sampling. The results of the univariate analysis, namely that before the counseling was given, the average knowledge score was 73.72, with a standard deviation of 6.828, the lowest score was 66 and the highest score was 87. After being given the counseling, the average knowledge score for third trimester pregnant women increased to 97.51, with standard deviation 3.285, lowest value 93 and highest value 100. The results of bivariate analysis used the Wilcoxon test ? < 0.05 with p value = 0.000 < ? (0.05). The conclusion is that there is a difference in the knowledge scores of third trimester pregnant women regarding congenital hypothyroidism screening before and after being given counseling using video media. Health services and workers can provide continuous education via video media regarding for newborn babies to pregnant women in the third trimester.</em></p> <p><em>Keywords: congenital hypothyroidism screening, third trimester pregnant women, counseling, video</em></p>2025-06-14T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/394DETERMINAN KESEHATAN LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN DIARE DI SUKOHARJO, JAWA TENGAH TAHUN 2023: ANALISIS SPASIAL2025-06-20T06:30:15+00:00Rizki Aqsyaririzkiaqsyarid@gmail.comAnastasia Lina Dwi Nursantirizkiaqsyarid@gmail.comYovita Prabawati Tirta Dharmarizkiaqsyarid@gmail.com<p>Diare merupakan salah satu masalah kesehatan global yang masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas, terutama pada balita. Selama diare, air dan elektrolit termasuk natrium, klorida, kalium, dan bikarbonat hilang melalui tinja cair, muntah, keringat, urin, dan pernapasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kesehatan lingkungan yang berpengaruh terhadap kejadian diare melalui analisis spasial. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif berdasarkan tempat atau lokasi. Studi ini bersifat deskriptif dengan populasi sebagai unit analisisnya (unit analisis agregat). Selain itu, penelitian dengan desain ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari institusi terkait. Pada penelitian ini, penyakit yang diteliti adalah kejadian diare, sementara faktor risiko yang diteliti adalah sarana air minum, jamban sehat, jumlah penduduk. Pada tahun 2023, data menunjukkan bahwa Kecamatan Mojolaban merupakan wilayah dengan jumlah sarana air minum paling sedikit di Kabupaten Sukoharjo, yaitu hanya sebanyak 11 tempat. Kondisi ini berkorelasi dengan tingginya angka kejadian diare di wilayah tersebut yang mencapai 2.506 kasus. Situasi ini menandakan bahwa keterbatasan akses terhadap air bersih dapat meningkatkan risiko masyarakat terkena penyakit diare. Di sisi lain, Kecamatan Grogol tercatat sebagai wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Sukoharjo, yakni sebanyak 121.584 jiwa. Selain itu, Grogol juga memiliki jumlah jamban sehat terbanyak dengan total 40.454 kepala keluarga (KK). Meskipun begitu, jumlah kasus diare di kecamatan ini juga tinggi, yaitu mencapai 3.283 kasus, menunjukkan bahwa keberadaan fasilitas sanitasi saja tidak cukup untuk menekan angka kejadian diare apabila tidak disertai perilaku hidup bersih dan pengelolaan limbah yang memadai. Kesimpulan: Tingginya kejadian diare di Kabupaten Sukoharjo, khususnya di Kecamatan Mojolaban dan Grogol, berkaitan erat dengan keterbatasan sarana air minum, tingginya jumlah penduduk, serta belum optimalnya pemanfaatan jamban sehat.</p> <p>Kata Kunci: diare, jumlah penduduk, jamban sehat</p> <p><em>Diarrhea is one of the global health problems that is still a major cause of morbidity and mortality, especially in toddlers. During diarrhea, water and electrolytes including sodium, chloride, potassium, and bicarbonate are lost through loose stools, vomiting, sweat, urine, and respiration. This study aims to determine the environmental health determinants that influence diarrhea incidence through spatial analysis. This study uses a quantitative method based on place or location. This study is descriptive with population as the unit of analysis (aggregate analysis unit). In addition, research with this design uses secondary data obtained from related institutions. In this study, the disease studied was diarrhea incidence, while the risk factors studied were drinking water facilities, healthy toilets, and population. In 2023, data shows that Mojolaban District is the area with the fewest number of drinking water facilities in Sukoharjo Regency, which is only 11 places. This condition correlates with the high incidence of diarrhea in the area, which reached 2,506 cases. This situation indicates that limited access to clean water can increase the risk of people getting diarrhea. On the other hand, Grogol District is recorded as the area with the largest population in Sukoharjo, which is 121,584 people. In addition, Grogol also has the largest number of healthy latrines with a total of 40,454 heads of families (KK). Even so, the number of diarrhea cases in this district is also high, reaching 3,283 cases, indicating that the existence of sanitation facilities alone is not enough to reduce the incidence of diarrhea if it is not accompanied by clean living behavior and adequate waste management. Conclusion: The high incidence of diarrhea in Sukoharjo Regency, especially in Mojolaban and Grogol Districts, is closely related to limited drinking water facilities, the high population, and the less than optimal use of healthy latrines.</em></p> <p><em>Keywords: diarrhea, healthy toilets, population,</em></p>2025-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/395EFEKTIFITAS LAYANAN KESEHATAN TELEHEALTH DALAM MENUNJANG KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN : META ANALISIS2025-06-02T04:17:03+00:00Hendra Dwi Kurniawanhendradeeka@gmail.comRisa Setia Ismandanihendradeeka@gmail.comBudi Santosohendradeeka@gmail.comYulia Lemenzahendradeeka@gmail.comRudi Suryo Handoyohendradeeka@gmail.com<p>Era digitalisasi mempengaruhi adanya perubahan dalam bidang kesehatan, terutama dalam pelayanan kesehatan. <em>Telehealth</em> merupakan salah satu bentuk layanan kesehatan yang ada pada era digitalisasi saat ini. Adanya layanan <em>telehealth</em> diharapkan dapat membantu penyediaan layanan kesehatan dalam pemberian layanan ke masyarakat secara optimal sehingga masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan layanan kesehatan yang ada. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas layanan kesehatan <em>telehealth</em> dalam menunjang kualitas pelayanan kesehatan. Metode dalam penelitian ini merupakan penelitian meta analisis dan <em>systematic review</em> dengan PICO (<em>Population</em> = pengguna layanan kesehatan <em>telehealth</em>, <em>Intervention</em> = <em>telehealth</em>, <em>Comparison</em> = tidak menggunakan <em>telehealth</em>, <em>Outcome</em> = pelayanan kesehatan). Artikel yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari beberapa database diantaranya yaitu PubMed,, ScienceDirect, dan Google Scholar. Artikel yang digunakan adalah artikel <em>full-text</em> dari tahun 2020 hingga 2025. Artikel dipilih menggunakan diagram PRISMA flow. Artikel dianalisis menggunakan aplikasi RevMan 5.3. Hasil pada penelitian ini menunjukkan dari 6 artikel yang dianalisis dalam studi meta analisis ini berasal dari Amerika dan Kuwait. Studi menunjukkan bahwa layanan kesehatan telehealth efektif dalam menunjang pelayanan kesehatan (OR 1.79; CI 95% = 0.95 hingga 3.34; p = 0.07). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah adanya layanan kesehatan telehealth efektif dalam menunjang pelayanan kesehatan.</p> <p>Kata kunci : digitalisasi kesehatan, kualitas pelayanan kesehatan, telehealth</p> <p><em>The digitalization era has brought changes in the healthcare sector, particularly in healthcare services. Telehealth is one form of healthcare service that has emerged in this digital age. The presence of telehealth services is expected to support the provision of healthcare services to the public more optimally, making it easier for people to access healthcare.The aim of this study is to determine the effectiveness of telehealth services in supporting healthcare delivery. This study uses a meta-analysis and systematic review method based on the PICO framework (Population = telehealth service users, Intervention = telehealth, Comparison = non-telehealth users, Outcome = healthcare services). The articles used in this study were obtained from several databases, including PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar. The selected articles were full-text publications from 2020 to 2025. The selection of articles was carried out using the PRISMA flow diagram. The analysis was conducted using the RevMan 5.3 software. The results of this study show that six articles included in the meta-analysis originated from the United States, Ethiopia, Iran, and Canada. The studies indicate that telehealth services are effective in supporting healthcare delivery (OR 1.79; 95% CI = 0.95 to 3.34; p = 0.07). In conclusion, telehealth services are effective in supporting healthcare delivery.</em></p> <p><em>Keywords: </em><em>digitalization of health, health service, telehealth</em></p>2025-07-01T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/396LAMA SAKIT MEMPENGARUHI NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS2025-06-23T04:39:08+00:00Mulyaningsih Mulyaningsihmulyaningsih@aiska-university.ac.idWahyuni Wahyuniyunyskh@aiska-university.com<p>Prevalensi Diabetes Mellitus (DM) semakin meningkat dan diperkirakan mencapai 28,5 juta orang pada tahun 2045. DM adalah masalah utama dalam pengendalian PTM di Jawa Tengah. Sedangkan di Kota Surakarta, DM menduduki urutan yang kedua. Salah satu indikator terjadinya ulkus kaki diabetik adalah nilai Ankle Brachial Indeks (ABI) yang rendah, sehingga perlu ada pengukuran nilai ABI secara rutin. Selain itu juga perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi nilai ABI pada penderita DM. Sehingga penting dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan nilai ABI. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan <em>cross-sectional</em> dengan desain korelatif. Untuk mengetahui nilai ABI, menggunakan tensimeter untuk mengukur tekanan darah pada tangan dan kaki. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 156 penderita DM. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai ABI tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin (? = 1.000), usia (? = 0.067), dan riwayat ulkus kaki diabetik (? = 0.187). Sedangkan untuk hasil hubungan antara lama sakit dan nilai ABI didapatkan nilai ? = 0.045 yang artinya ada hubungan. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa faktor yang mempengaruhi nilai ABI pada penderita DM adalah lama sakit.</p> <p>Kata kunci: ABI; diabetes mellitus; lama sakit; risiko; ulkus kaki</p> <p><em>The prevalence of Diabetes Mellitus (DM) is increasing and is estimated to reach 28.5 million people by 2045. DM is the main problem in NCD control in Central Java. Meanwhile, DM ranks second in the city of Surakarta. One of the indicators of the occurrence of diabetic foot ulcers is a low Ankle Brachial Index (ABI) value, so there needs to be a routine measurement of the ABI value. In addition, it is also necessary to know the factors that affect the ABI value in DM patients. Therefore, it is essential to research and analyze factors related to ABI values. This research was conducted using a cross-sectional approach with a correlative design. To find out the ABI value, use a tensiometer to measure blood pressure in the hands and feet. The number of respondents in this study was 156 DM patients. The results of the analysis showed that the ABI value was not affected by gender (? = 1,000), age (? = 0.067), and history of diabetic foot ulcers (? = 0.187). As for the relationship between the length of illness and the ABI value, the value of ? = 0.045 was obtained, which means there is a relationship. So, it can be concluded that the factor that affects the ABI value in DM sufferers is the length of illness.</em></p> <p><em>Keywords : ABI; diabetes mellitus; leg ulcers; length of illness; risk </em></p>2025-07-03T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025