https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/issue/feed KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan 2026-01-13T07:09:36+00:00 Warsini lppmpankos@gmail.com Open Journal Systems <p>Kosala : Jurnal Ilmu Kesehatan (p-ISSN 1979-0430 | e-ISSN 1979-0430) publishes research articles, conceptual articles, reports field studies, the best practices and policies of health and nursing in national and international stage (See Focus and Scope). STIKES PANTI KOSALA Jalan Raya Solo - Baki Km. 4 Gedangan, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Phone: (0271) 621313 | Email: lppmpankos@gmail.com</p> <p>KOSALA: Journal of Health Sciences has been accredited by<br />Directorate General of Higher Education, Research and Technology<br />Ministry of Education, Research and Technology of the Republic of Indonesia<br />Number 105/E/KPT/2022 in Scientific Journal Accreditation Rating Period I 2022</p> <p>KOSALA : Journal of Health Sciences<br />Designated as RANK 4 ACCREDITED Scientific Journal<br />valid for 5 (five) years, starting from Volume 8 Number 1 of 2020 to Volume 12 Number 2 of 2022.</p> <pre id="tw-target-text" class="tw-data-text tw-text-large tw-ta" dir="ltr" data-placeholder="Terjemahan"><a href="https://stikespantikosala.ac.id/wp-content/uploads/2022/11/Sertifikat-KOSALA-Jurnal-Ilmu-Kesehatan.pdf"><strong><span class="Y2IQFc" lang="en">Accredited by SINTA 4</span></strong></a></pre> https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/350 KEJADIAN STUNTING DARI ASPEK PENGETAHUAN IBU, SIKAP DAN POLA ASUH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI ANDAI 2024-09-30T04:49:17+00:00 Khairul Anam hildairianty89@gmail.com Hilda Irianty hildairianty89@gmail.com Yenni Fitri hildairianty89@gmail.com <p><em>Stunting</em> merupakan suatu kondisi kekurangan gizi kronis yang di tandai dengan tubuh pendek, Puskesmas Sungai Andai merupakan puskesmas dengan kasus <em>stunting</em> yang tinggi dimana tinggi badan menurut umur berada di bawah minus 2 Standar Deviasi (&lt;-2SD) dari standar median WHO. Data tahun 2022 prevelensi <em>stunting</em> di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Andai sebanyak 211 kasus (10,6%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian <em>stunting</em> dari aspek pengetahuan ibu, sikap dan pola asuh di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Andai. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain <em>Cross Sectional</em>. Sampel dipilih menggunakaan teknik total sampling melibatkan 95 ibu balita. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang sudah teruji validitas serta reliabilitasnya dan dibagikan langsung kepada responden. Analisis data terdiri dari analisis univariat dan analisis bivariat dengan data spss menggunakan uji <em>Chi-Square</em>. Hasil penelitian di dapat anak balita yang <em>stunting</em> ada 40 orang (42,1 %), pengetahuan ibu baik (45,3%), sikap (65,3%) dan pola asuh positif (54,7%). Hasil bivariat menunjukkan bahwa secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu (p-value=0,000), sikap (p-value=0,000) dan pola asuh (p-value=0,000) terhadap kejadian <em>stunting</em>. Disarankan kepada ibu yang mempunyai balita untuk menjaga pola makan ananknya dan kepada tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi Kesehatan dengan metode yang berbeda untuk mengurangi percepatan kejadian stunting melalui rembuk <em>stunting</em> dan intervensi ke beberapa posyandu.</p> <p>Kata kunci : kejadian <em>stunting</em>; pengetahuan ibu; pola asuh; sikap</p> <p><em>Stunting is a condition of chronic malnutrition characterized by a short body, Sungai Andai Health Center is a health center with high stunting cases where height for age is below minus 2 Standard Deviations (&lt;-2SD) from WHO median standards. Data in 2022 the prevalence of stunting in the Sungai Andai Health Center Working Area was 211 cases (10.6%). This study aims to determine the incidence of stunting from the aspects of maternal knowledge, attitudes and parenting in the Sungai Andai Health Center Working Area. This study uses a quantitative method with a Cross Sectional design. The sample was selected using a total sampling technique involving 95 mothers of toddlers. Data collection using questionnaires that have been tested for validity and reliability and distributed directly to respondents. Data analysis consists of univariate analysis and bivariate analysis with spss data using the Chi-Square test. The results of the study found that there were 40 toddlers who were stunted (42.1%), good maternal knowledge (45.3%), attitudes (65.3%) and positive parenting (54.7%). Bivariate results show that there is a statistically significant relationship between maternal knowledge (p-value=0.000), attitude (p-value=0.000) and parenting (p-value=0.000) to the incidence of stunting. It is recommended for mothers who have toddlers to maintain their children's diet and for health workers to provide health education with different methods to reduce the acceleration of stunting incidence through.</em></p> <p><em>Keywords : attitude; mother's knowledge; parenting; stunting incedent</em></p> 2025-11-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/438 HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN UNIT LOGISTIK NON MEDIS DENGAN KEPUASAN PENGGUNA DI RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO 2025-11-11T06:53:05+00:00 Risa Setia Ismandani risapantikosala@gmail.com Anastasia Lina Dwi Nursanti risasetia89@gmail.com Hendra Dwi Kurniawan hendradeeka@gmail.com Rizki Aqsyari rizkiaqsyarid@gmail.com <p>Rumah sakit sebagai institusi layanan kesehatan tidak hanya fokus pada pelayanan medis, tetapi juga harus memberikan pelayanan non medis secara paripurna. Salah satu komponen penting dalam pelayanan non medis adalah unit logistik, yang berperan strategis dalam menunjang kelancaran operasional rumah sakit melalui penyediaan barang dan peralatan secara tepat waktu, jumlah, dan mutu. Kualitas pelayanan logistik yang baik tidak hanya memengaruhi efisiensi kerja tenaga kesehatan, tetapi juga berdampak langsung pada kualitas pelayanan pasien. Kepuasan petugas kesehatan sebagai pengguna internal sangat dipengaruhi oleh kelengkapan, ketepatan, dan kesiapan logistik non medis. Ketika logistik dikelola dengan baik, petugas dapat bekerja lebih optimal dan memberikan pelayanan terbaik kepada pasien. Namun dalam praktiknya, masih sering ditemukan permasalahan seperti keterlambatan distribusi dan ketidaktersediaan barang mendesak (cito), yang dapat mempengaruhi kepuasan pengguna dan menurunkan kualitas layanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas pelayanan unit logistik non medis dengan kepuasan pengguna. Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional. Sampel yang digunakan adalah pengguna layanan unit logistik non medis di RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO sejumlah 75 responden. Analisis bivariat dengan <em>chi square </em>diperoleh hasil<em> p=0,002, </em>sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas pelayanan unit logistik non medis dengan kepuasan pengguna di RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO.</p> <p>Kata Kunci : kepuasan, kualitas layanan, logistik non medis</p> <p><em>Hospitals, as healthcare institutions, not only focus on medical services but also must provide comprehensive non-medical services. One of the important components in non-medical services is the logistics unit, which plays a strategic role in supporting the smooth operation of the hospital by ensuring the timely provision of goods and equipment in the right quantity and quality. Good logistics service quality not only affects the work efficiency of healthcare personnel but also has a direct impact on the quality of patient care. The satisfaction of healthcare staff as internal users is strongly influenced by the completeness, accuracy, and readiness of non-medical logistics. When logistics are well-managed, staff can work more optimally and deliver the best possible care to patients. However, in practice, issues such as delays in distribution and unavailability of urgent (cito) items are still frequently encountered, which can affect user satisfaction and reduce service quality. This study aims to determine the relationship between the quality of non-medical logistics service units and user satisfaction. This research is a correlational analytic study. The sample consisted of 75 respondents who were users of the non-medical logistics service unit at </em>Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO HOSPITAL<em>. Bivariate analysis using the Chi-square test yielded a result of </em>p = 0.002<em>, indicating a significant relationship between the quality of non-medical logistics service units and user satisfaction at Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO HOSPITAL.</em></p> <p><em>Keyword: service quality, non-medical logistics, satisfaction</em></p> 2025-11-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/422 TINJAUAN KEPUASAN USER REKAM MEDIS ELEKTRONIK DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PANTI WALUYO YAKKUM SURAKARTA DENGAN METODE EUCS 2025-11-11T08:41:25+00:00 Naufal Dzakiy Izuddin naufaldzakiy04@gmail.com Indarwati Indarwati indarwatipankos@gmail.com Agung Suryadi naufaldzakiy1@gmail.com <p>Kepuasan <em>user </em>rekam medis elektronik di Rumah Sakit Panti Waluyo Yakkum Surakarta sudah cukup baik tetapi masih terdapat kendala dalam penggunaannya. Kendala yang dihadapi meliputi downtime sistem dan maintenance tidak terjadwal yang berpotensi menghambat pelayanan pasien. Tujuan penelitian ini untuk meninjau tingkat kepuasan user terhadap sistem RME di instalasi rawat inap RS Panti Waluyo Yakkum Surakarta menggunakan metode End-User Computing Satisfaction (EUCS). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan user masuk dalam kriteria "Puas" untuk empat dimensi, yaitu keakuratan (<em>accuracy</em>) dengan persentase 50%, ketepatan waktu (<em>timeliness</em>) sebesar 45%, isi (<em>content</em>) sebesar 44%, dan kemudahan penggunaan (<em>ease of use</em>) sebesar 39%. Sementara itu, dimensi tampilan (format) mendapatkan tingkat kepuasan dengan kriteria "Cukup Puas" dengan persentase 45%. Kesimpulan, user RME di instalasi rawat inap RS Panti Waluyo Yakkum Surakarta secara umum merasa baik dalam penilaian berdasarkan dimensi isi, keakuratan, kemudahan penggunaan, dan ketepatan waktu. Namun, pada aspek tampilan (<em>format</em>) mendapatkan nilai cukup puas dikarenakan bentuk laporan belum lengkap informasi yang diisi oleh pengguna RME di sistem SIMRS.</p> <p>Kata kunci : EUCS, instalasi rawat inap, kepuasan pengguna, rekam medis elektronik</p> <p><em>User satisfaction with electronic medical records at Panti Waluyo Yakkum Hospital, Surakarta, is quite good, but there are still obstacles in its use. The obstacles faced include system downtime and unscheduled maintenance that have the potential to hinder patient services. The purpose of this study was to review the level of user satisfaction with the EMR system in the inpatient installation of Panti Waluyo Yakkum Hospital, Surakarta, using the End-User Computing Satisfaction (EUCS) method. This study used a quantitative descriptive method with a cross-sectional approach. The results showed that the level of user satisfaction fell into the "Satisfied" criteria for four dimensions, namely accuracy with a percentage of 50%, timeliness of 45%, content of 44%, and ease of use of 39%. Meanwhile, the display dimension (format) received a satisfaction level with the criteria of "Quite Satisfied" with a percentage of 45%. In conclusion, RME users at the inpatient unit of Panti Waluyo Yakkum Hospital, Surakarta, generally felt good in the assessment based on the dimensions of content, accuracy, ease of use, and timeliness. However, in the display (format) aspect, the score was quite satisfactory because the report format was incomplete information filled by RME users in the SIMRS system.</em></p> <p><em>Keywords : electronic medical records, EUCS, inpatient installation, user satisfaction</em></p> 2025-12-01T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/440 PENGARUH KONSELING PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI TERHADAP PENURUNAN NIAT PERNIKAHAN DINI PADA REMAJA DI PONPES NURUL ULUM JEMBER 2025-12-02T09:33:30+00:00 Dewi Rakhmawati dewirakhmawati2310@gmail.com Rita Sri Kurniawati ritasri.1207@gmail.com Khoirul Anam ritasri.1207@gmail.com <p>Pernikahan dini masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan seperti Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Rendahnya pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi turut berkontribusi terhadap tingginya niat menikah di usia muda yaitu 47,40%. Intervensi berupa konseling kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan keagamaan seperti madrasah dapat menjadi strategi preventif yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konseling pendidikan kesehatan reproduksi terhadap penurunan niat pernikahan dini pada remaja di Ponpes Nurul Ulum Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pendekatan <em>pretest-posttest without control group</em>. Sampel terdiri dari 35 siswa kelas VIII dan IX yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan melalui empat sesi konseling terstruktur yang membahas hak kesehatan reproduksi, risiko pernikahan dini, dampak psikososial, dan pentingnya pendidikan serta perencanaan masa depan. Pengumpulan data menggunakan kuesioner skala Likert untuk mengukur niat pernikahan dini sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan skor rata-rata niat pernikahan dini setelah dilakukan konseling. Uji statistik menunjukkan nilai p &lt; 0,05, yang berarti konseling pendidikan kesehatan reproduksi memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan niat pernikahan dini pada remaja. Konseling pendidikan kesehatan reproduksi terbukti efektif dalam menurunkan niat pernikahan dini pada remaja di lingkungan madrasah.</p> <p>Kata kunci : konseling, kesehatan reproduksi, pernikahan dini, remaja</p> <p><em>Early marriage remains a serious issue in Indonesia, particularly in rural areas such as Silo District, Jember Regency. The low level of adolescent understanding regarding reproductive health contributes to a high intention to marry at a young age are 47,40%. Interventions in the form of reproductive health counseling within religious educational institutions such as madrasahs can serve as an effective preventive strategy. This study aims to analyze the effect of reproductive health education counseling on reducing the intention of early marriage among adolescents at PonPes Nurul Ulum, Silo District, Jember Regency. This study employed a quasi-experimental design with a pretest-posttest without control group approach. The sample consisted of 35 eighth- and ninth-grade students selected through purposive sampling. The intervention was carried out through four structured counseling sessions addressing reproductive health rights, risks of early marriage, psychosocial impacts, and the importance of education and future planning. Data were collected using a Likert-scale questionnaire to measure the intention of early marriage before and after the intervention. Data analysis was performed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The analysis showed a decrease in the average score of early marriage intention following the counseling sessions. The statistical test yielded a p-value of &lt; 0.05, indicating that reproductive health education counseling had a significant effect on reducing the intention of early marriage among adolescents. Reproductive health education counseling is proven to be effective in lowering the intention of early marriage among adolescents in madrasah settings.</em></p> <p><em>Keywords : adolescents, counseling, early marriage, reproductive health</em></p> 2025-12-11T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/443 EFEKTIFITAS PROMOSI KESEHATAN DENGAN MEDIA AUDIOVISUAL TERHADAP PENGETAHUAN LANSIA TENTANG GOUT ARTHRITIS DI POSYANDU LANSIA 2025-12-04T06:44:13+00:00 Sri Aminingsih s.aminingsih@yahoo.com Warsini Warsini warsinimulyono@gmail.com <p>Angka kejadian <em>gout arthritis</em> semakin meningkat pada lansia hingga tahun 2018 mencapai 51,9% pada usia 65-74 tahun sehingga perlu meningkatkan pengetahuan para lansia terkait hal tersebut. Penyuluhan dengan media <em>audio visual</em> memberikan stimulus terhadap mata (penglihatan) dan telinga (pendengaran), sedangkan media cetak hanya menstimulasi indra mata (penglihatan). Mengingat pentingnya promosi kesehatan maka perlu adanya metode pembelajaran atau inovasi baru agar audiens bisa menerima pesan kesehatan dengan baik. Video yang digunakan pada saat penyuluhan kesehatan dibuat dan dicari yang semenarik mungkin dengan mempertimbangkan minat responden yang cenderung lebih menyukai hal-hal baru dan unik serta isi dari video mudah di tiru dan dikombinasikan dengan musik yang penuh semangat sehingga menarik perhatian. Dalam menentukan media dan alat bantu penyuluhan kesehatan, bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia itu diterima atau ditangkap melalui panca Indera. Semakin banyak panca Indera yang digunakan untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan semakin jelas pengertian atau pengetahuan yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas promosi kesehatan menggunakan <em>audiovisual</em> terhadap pengetahuan lansia tentang <em>gout arthritis</em> di posyandu lansia. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen <em>(quasi experiment</em>). Desain penelitian menggunakan rancangan <em>one group pre-test</em> dan <em>post-test</em> untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan terhadap pengetahuan lansia tentang <em>gout arthritis. </em>Hasil <strong> </strong>uji <em>Wilcoxon</em> diperoleh p=0,000 yang dapat diartikan bahwa pemberian promosi kesehatan menggunakan <em>audiovisual</em> efektif dalam meningkatkan pengetahuan lansia tentang <em>gout arthritis. </em>Dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan menggunakan audiovisual efektif meningkatkan pengetahuan lansia tentang <em>gout arthritis.</em></p> <p>Kata kunci : gout arthritis, lansia, pengetahuan, promosi kesehatan</p> <p><em>The incidence of gout arthritis is increasing in the elderly, reaching 51.9% in 2018 among those aged 65-74, necessitating increased knowledge of this issue. Audio-visual education provides visual stimulation the eyes (sight) and ears (hearing), while print media only stimulates the sense of sight (vision). Given the importance of health promotion, new learning methods or innovations are needed so that audiences can receive health messages well. Videos used during health education are created and sought to be as interesting as possible, taking into account the interests of respondents who tend to prefer new and unique things. The content of the video is easy to imitate and combined with upbeat music to attract attention. In determining media and tools for health education, it is important that the knowledge that exists in every human being is received or captured through the five senses. The more five senses used to receive something, the more and clearer the understanding or knowledge gained. The purpose of this research was to determine the effectiveness of health promotion using audiovisuals on the knowledge of the elderly about gout arthritis at the elderly health post. This study used a quasi-experimental method. The research design used a one-group pre-test and post-test to determine the effect of health promotion on elderly people's knowledge about gout arthritis. By using the Wilcoxon test, the results obtained were p=0,000, which can be concluded that providing health promotion using audiovisuals is effective in increasing the knowledge of the elderly about gout arthritis. Health promotion using audiovisuals effectively increases the knowledge of the elderly about gout arthritis. It can be concluded that health promotion using audiovisuals effectively increases the knowledge of the elderly about gout arthritis.</em></p> <p><em>Keywords : elderly, gout arthritis, health promotion, knowledge</em></p> 2025-12-12T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/406 GAMBARAN DETERMINAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS KUTA SELATAN 2025-11-11T08:08:22+00:00 Desak Made Paris Okarini parisokarini23@gmail.com I Nyoman Wirata inyomanwirata1973@gmail.com Ni Komang Yuni Rahyani yunirahyani@yahoo.co.id Listina Ade Widya Ningtyas parisokarini23@gmail.com <p>Stunting merupakan masalah gizi kronis yang paling banyak dialami oleh balita di seluruh dunia. Faktor-faktor penyebab stunting dapat diklasifikasikan ke dalam faktor langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor tidak langsung yang berkontribusi terhadap kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kuta Selatan. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>, yang dilaksanakan pada bulan Mei 2025. Sebanyak 49 ibu dari balita yang mengalami stunting dipilih sebagai sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik ibu (pendidikan, pekerjaan, paritas, dan pendapatan keluarga), karakteristik balita (umur dan jenis kelamin), perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pola asuh. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita stuntingberusia 12-36 tahun dan berjenis kelamin laku laki. Mayoritas ibu balita yang mengalami stunting memiliki tingkat pendidikan tinggi, tidak bekerja, memiliki ≤ 3 anak, dan pendapatan keluarga yang baik. Selain itu, mayoritas keluarga balita stunting menunjukkan PHBS yang baik serta menerapkan pola asuh demokratis. Temuan ini menunjukkan perlunya peningkatan cakupan edukasi gizi dan pengasuhan anak, dengan penekanan pada praktik pemberian makan yang tepat, penerapan PHBS, pemanfaatan layanan kesehatan anak, serta dukungan pengasuhan khususnya bagi ibu dengan pengalaman terbatas.</p> <p>Kata kunci : balita, PHBS, pola asuh, stunting</p> <p><em>Stunting is the most common form of chronic malnutrition affecting children under five worldwide. The causes of stunting can be categorized into direct and indirect factors. This study aimed to identify indirect factors contributing to stunting among children under five in the working area of Kuta Selatan Public Health Center. A descriptive cross-sectional design was used, conducted in May 2025. A total of 49 mothers of stunted children were selected based on inclusion and exclusion criteria. Variables included maternal characteristics (education, occupation, parity, and family income), child characteristics (age and sex), clean and healthy living behavior (CHLB), and parenting style. Data were collected using questionnaires and analyzed descriptively. Most stunted children were aged 12–36 months and male. The majority of mothers had higher education, were unemployed, had ≤3 children, and adequate family income. Most families practiced good PHBS and applied a democratic parenting style. These findings highlight the need to strengthen nutrition and parenting education, with emphasis on appropriate feeding practices, consistent PHBS, use of child health services, and targeted parenting support, especially for mothers with limited experience.</em></p> <p><em>Keywords : CHLB, parenting style, stunting, toddlers</em></p> 2025-12-16T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/441 EFEKTIVITAS PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN BALITA KURANG GIZI DI DESA NGAMBARSARI WONOGIRI 2025-11-22T02:54:42+00:00 Ratna Indriati ratnaindriati24@gmail.com Ditya Yankusuma Setiani alloysmaria@yahoo.co.id Tunjung Sri Yulianti tejeyulianti@gmail.com <p>Prevalensi Balita berat badan kurang di Indonesia 6,4% dan di Jawa Tengah adalah 8,5%. Balita kurang gizi akan bisa mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan. Untuk mengatasi kekurangan gizi yang terjadi salah satu program yang dijalankan oleh puskesmas adalah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan. Bahan makanan yang digunakan dalam PMT hendaknya bahan-bahan yang ada atau dapat dihasilkan setempat, sehingga kemungkinan kelestarian program lebih besar.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas pemberian makanan tambahan terhadap peningkatan berat badan anak balita kurang gizi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan <em>quasi eksperimental</em> dengan rancangan <em>one group pretest-posttest design</em>. Subjek Penelitian adalah 23 anak balita kurang gizi yang mendapatkan PMT, pengambilan sampel secara <em>total sampling</em>. Hasil Penelitian menunjukkan 73,9% anak mengalami kenaikan berat badan setelah pemberian PMT dan 26,1% anak tidak mengalami kenaikan berat badan. Hasil analisis pengaruh pemberian makanan tambahan (PMT) terhadap peningkatan berat badan anak balita menggunakan Uji <em>paired t-test</em> diperoleh p <em>value</em> sebesar 0,001 (&lt; 0,05) sehingga diketahui adanya pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap peningkatan berat badan balita kurang gizi. Kesimpulan penelitian adalah terdapat perbedaan yang signifikan pada berat badan anak sebelum dan sesudah diberikan makanan tambahan.</p> <p>Kata kunci : balita, berat badan, pangan lokal, pemberian makanan tambahan</p> <p><em>The prevalence of underweight toddlers in Indonesia is 6.4% and in Central Java is 8.5%. Malnourished toddlers can experience stunted growth and development.To address malnutrition, one program implemented by community health centers is the Recovery Supplemental Feeding Program (PMT).The food ingredients used in PMT should be locally available or locally produced, thus increasing the program's sustainability. The purpose of this study was to determine the effectiveness of supplementary feeding on weight gain in malnourished toddlers.This was a quantitative, quasi-experimental study with a one-group pretest-posttest design.The subjects were 23 malnourished toddlers receiving PMT, with total sampling used.The results of the study showed that 73.9% of children experienced weight gain after being given PMT and 26.1% of children did not experience weight gain. The results of the analysis of the effect of providing additional food (PMT) on weight gain in toddlers using the paired t-test obtained p value of 0.001 (&lt;0.05) so that it is known that there is an effect of providing additional food on increasing the weight of malnourished toddlers. The conclusion of the study was that there was a significant difference in children's weight before and after being given additional food.</em></p> <p><em>Keywords : body weight, local food, supplemental feeding, toddlers</em></p> 2025-12-22T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2025 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/442 PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN MELALUI PEMBERDAYAAN DASA WISMATERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP DAN DUKUNGAN KELUARGA PADA UPAYA PREVENSI PENYAKIT GINJAL KRONIS 2025-11-22T02:45:29+00:00 Diyono Diyono diondiyono93@gmail.com Budi Kristanto budikrist18@gmail.com <p>Insiden Penyakit Ginjal Kronis (PGK) dengan faktor komorbid hipertensi terus meningkat dan berdampak buruk pada aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi. Salah satu upaya prevensi terbaik adalah melalui pengelolaan faktor risiko penyakit komorbid. Tujuan penelitian ini untuk m enganalisis pengaruh pemberdayan kader dasa wisma terhadap pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga dalam upaya prevensi PGK pada pasien hipertensi. Penelitian ini merupakan <em>quasy experiment</em> dengan rancangan <em>pre post experimental one group design. </em>Dilakukan pada 30 pasien hipertensi yang diambil secara <em>multistage random sampling</em>. Data dikumpulkan dengan kuesioner, dianalisa menggunakan <em>uji Wilcoxon Test </em>dengan bantuan program SPSS Versi 26. Hasil penelitian Pemberdayaan kader dasa wisma efektif meningkatkan pengetahuan keluarga (Pre: 41,78±15,65;40,00; Post: 68,67;18,45;73,33;p:0,001), sikap keluarga (Pre: 43,00±6,12;43,81; Post:82,05±10,83;83,33:p:0,001), dan dukungan keluarga dalam upaya prevensi PGK (Pre:63,35±14,25;62,77;Post: 87,42±7,03;88,49;p:0,001). Pemberdayaan dasa wisma efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan dukungan keluarga dalam upaya prevensi PGK pada pasien hipertensi.</p> <p>Kata kunci: pendidikan kesehatan, pemberdayaan dasa wisma, hipertensi, prevensi penyakit ginjal kronis</p> <p><em>The incidence of chronic kidney disease (CKD) with comorbid hypertension continues to increase and has a negative impact on health, social, and economic aspects. One of the best preventive measures is through managing the risk factors for comorbidities<strong>.</strong> The purpose of this study was to Analyzing the influence of empowering Dasa Wisma cadres on knowledge, attitudes, and family support in efforts to prevent PGK in hypertension patients This study used was a quasi-experimental study with a pre-post-experimental, one-group design. Thirty families were selected using multistage random sampling. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the Wilcoxon test using SPSS version 26. The result showed that Empowerment of dasa wisma cadres effectively increased family knowledge (Pre: 41.78±15.65;40.00; Post: 68.67;18.45;73.33;p:0.001), family attitudes (Pre: 43.00±6.12;43.81; Post: 82.05±10.83;83.33:p:0.001), and family support in CKD prevention efforts (Pre: 63.35±14.25;62.77; Post: 87.42±7.03;88.49;p:0.001). It can be conclude that health promotion based on empowerment of the Dasa Wisma effectively increases knowledge, attitudes, and family support in preventing CKD in hypertensive patients.</em></p> <p><em>Keywords : Chronic Kidney Disease prevention, dasa wisma empowerment, health education, hypertension</em></p> 2026-01-20T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/437 PENGARUH APLIKASI FITRIS TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG PERKEMBANGAN BAHASA 2026-01-13T07:09:36+00:00 Fitria Dila Sari sfitriadila@yahoo.co.id Listina Ade Widya Ningtyas listinaade23@gmail.com Deswita Deswita listinaade23@gmail.com Lili Fajria listinaade23@gmail.com <p>Keterlambatan perkembangan bahasa pada anak prasekolah masih tinggi, dimana di Amerika Serikat mencapai sekitar (12-26%) dan di Indonesia sendiri mencapai (22%) keterlambatan perkembangan bahasa, salah satunya disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan sikap ibu dalam memberikan stimulasi serta deteksi dini. Penelitian ini bertujuan menilai pengaruh Aplikasi FITRIS (Fitur Deteksi Dini Dan Stimulasi Perkembangan Bahasa) terhadap pengetahuan dan sikap ibu mengenai perkembangan bahasa anak prasekolah. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimental pre-post test dengan 90 peserta (45 intervensi, 45 kontrol) melalui consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner valid dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan Aplikasi FITRIS berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan (p=0,000) dan sikap ibu (p=0,000). Aplikasi ini membantu ibu memberikan stimulasi dan melakukan deteksi dini pada anak usia 36–72 bulan, serta bisa dijadikan media edukasi dalam program Bina Keluarga Balita (BKB) di Puskesmas untuk mencegah keterlambatan perkembangan bahasa.</p> <p>Kata kunci: aplikasi FITRIS, pengetahuan, perkembangan bahasa, prasekolah, sikap</p> <p><em>Language development delay in preschool children remains high, reaching approximately 12–26% in the United States and 22% in Indonesia. One of the contributing factors is the lack of maternal knowledge and attitudes toward providing stimulation and conducting early detection of language development. This study aimed to evaluate the effect of the FITRIS Application (Featuring Early Detection and Stimulation of Language Development) on mothers’ knowledge and attitudes regarding preschool children’s language development. A quasi-experimental pre–post test design was employed involving 90 participants (45 in the intervention group and 45 in the control group) selected through consecutive sampling. Data were collected using validated questionnaires and analyzed using the Wilcoxon test. The results showed that the FITRIS Application had a significant effect on improving mothers’ knowledge (p = 0.000) and attitudes (p = 0.000). This application assists mothers in providing stimulation and performing early detection of language development in children aged 36–72 months and can be utilized as an educational medium within the Bina Keluarga Balita (BKB) program at Primary Health Centers (Puskesmas) to prevent language development delays.</em></p> <p><em>Keywords: attitude, FITRIS application, knowledge, language development, preschool</em></p> 2026-01-26T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 https://ejurnal.stikespantikosala.ac.id/index.php/kjik/article/view/401 EKSPLORSI PENGALAMAN IBU HAMIL TRIMESTER II DAN IIII DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN BERAT BADAN BERLEBIH: TANTANGAN DAN STRATEGI ADAPTASI 2025-11-11T06:56:57+00:00 Ayen Luanmase yenlerebulan@gmail.com Rahajeng Putriningrum rahajengputriningrum@ukh.ac.id Tresia Umarianti tresia27a@gmail.com <p>Dalam masa kehamilan, terutama pada trimester II dan III, ibu mengalami banyak perubahan fisik dan emosional, salah satunya adalah peningkatan berat badan ketika kenaikan berat badan melebihi batas yang disarankan, hal ini dapat menimbulkan tekanan psikologis dan risiko kesehatan. Bagi sebagian ibu hamil, perubahan ini menjadi tantangan yang memengaruhi rasa percaya diri, kesejahteraan, dan cara mereka beradaptasi. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi pengalaman ibu hamil trimester II dan III dalam menghadapi perubahan berat badan berlebih, dengan fokus pada tantangan yang mereka alami serta strategi adaptasi yang digunakan untuk menghadapi perubahan tersebut secara fisik maupun emosional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pendekatan kualitatif dengan desain studi fenomenologi. Penelitian berlangsung di Puskesmas Gambirsari pada bulan Januari-Februari 2025 dengan jumlah sampel 13 orang. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam secara langsung dengan pedoman wawancara semi terstruktur. Hasil penelitina memperlihatkan bahwa ibu hamil trimester II dan III mengalami peningkatan berat badan yang signifikan, disertai perubahan fisik seperti nyeri punggung, pembengkakan, dan kelelahan. Perasaan terhadap kenaikan berat badan bervariasi, mulai dari penerimaan hingga rasa tidak percaya diri dan cemas. Tantangan utama meliputi ketidaknyamanan fisik, kesulitan beraktivitas, dan tekanan psikologis. Untuk mengatasi hal ini, ibu hamil menerapkan strategi adaptasi seperti mengatur pola makan, membatasi asupan gula dan lemak, serta melakukan aktivitas fisik ringan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Kesimpulan: Meskipun mengalami ketidaknyamanan dan kekhawatiran, para ibu mampu mengembangkan strategi adaptasi melalui pengaturan pola makan, aktivitas fisik ringan, dan dukungan tenaga kesehatan untuk menjaga keseimbangan dan kesiapan menjelang persalinan.</p> <p>Kata kunci: ibu hamil, trimester kehamilan, berat badan berlebih, tantangan kehamilan, strategi adaptasi</p> <p><em>During pregnancy, especially in the second and third trimesters, women undergo many physical and emotional changes, one of which is weight gain. When this weight gain exceeds the recommended limit, it can lead to psychological stress and health risks. For some pregnant women, these changes become challenges that affect their self-confidence, well-being, and ways of adapting. This study aims to explore the experiences of second and third trimester pregnant women in facing excessive weight gain, focusing on the challenges they encounter and the adaptation strategies they employ, both physically and emotionally. This research used a qualitative method with a phenomenological study design. The study was conducted at Gambirsari Public Health Center from January to February 2025, involving 13 participants. Data were collected through in-depth interviews using a semi-structured interview guide. The results showed that pregnant women in the second and third trimesters experienced significant weight gain, accompanied by physical changes such as back pain, swelling, and fatigue. Feelings about weight gain varied, ranging from acceptance to insecurity and anxiety. The main challenges included physical discomfort, difficulty in daily activities, and psychological pressure. To cope with these issues, pregnant women adopted adaptation strategies such as managing their diet, limiting sugar and fat intake, and engaging in light physical activities based on health professionals' recommendations. Conclusion: Despite discomfort and concerns, pregnant women were able to develop adaptation strategies through diet management, light physical activity, and support from health professionals to maintain balance and prepare for childbirth.</em></p> <p><em>Keywords : pregnant women, pregnancy trimester, excessive weight gain, pregnancy challenges, adaptation strategies </em></p> 2026-02-04T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026